Bab 170: Tenda Darurat

1178 Kata

Ayu lebih banyak duduk dan mendokumentasikan kelima laki-laki itu mengitari panggangan dan kompor portable. Tugasnya kali ini hanya membuatkan teh panas dan menanak nasi untuk mereka. Lima laki-laki itu yang menyiapkan makan malam mereka. “Ma, cobain deh. Enak enggak steambotnya,” Naufal mendekat membawa mangkok kecil berisi steambot yang mereka buat. “Udah cukup kok rasanya. Udah selesai semua?” kata Ayu. “Jagungnya itu masih utuh,” kata Tegar. “Jagungnya malaman dikit aja nanti. Kita makan dulu aja? Nasinya udah mateng tuh,” kata Ayu. “Udah? Cukup segini daging sama kentangnya? Nanti kurang Naufal sama Rayhan,” kata Elang. Mereka berdua memang yang makannya lebih banyak. “Memang masih ada, Pa?” tanya Rayhan. “Ada itu.” “Habisin sekalian deh, Pa. Jagungnya aja sama sosis yang buat

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN