Adeeva menatap adiknya yang sudah terlelap. Mereka berempat tidur di kamar yang sama. Meski terkadang, Adeeva dan ayahnya kerap tidur di ruang depan. Rumah kontrakan mereka hanya tiga petak, yang terdiri dari kamar, dapur kecil dan kamar mandi, serta satu ruangan tempat mereka melakukan semua aktivitas serupa ruang serba guna. Tapi Wulan membuatnya terlihat bersih tanpa banyak perabot berserakan hingga terasa nyaman untuk mereka tinggali. “Adek apa akan begitu terus, Ummi?” “Begitu bagaimana?” “Tidak seperti anak lain. Tidak seperti aku.” “Kamu yang sabar ya. Dokter bilang adekmu istimewa.” “Kenapa begitu?” “Karena kita istimewa. Hanya keluarga yang istimewa yang dititipi anak istimewa.” Lidah Wulan kelu. Tapi ia ingin putri sulungnya itu memiliki empati lebih untuk adiknya. Wulan

