Gelombang itu datang tanpa peringatan, menyapu dari ujung kaki hingga ubun-ubun, membuat setiap ujung saraf Sherry menyala seperti kembang api di langit malam. Ia memejamkan mata, bibirnya menggigit erat, berusaha menahan suara yang mengancam akan keluar dari tenggorokannya. Ia bisa merasakan tubuh Raymond menegang di belakangnya. Napas pria itu memburu di dekat telinganya, hangat, cepat, tidak teratur. Kedua tangan Raymond masih mencengkeram pinggulnya, jari-jari besarnya meninggalkan bekas merah di kulit putihnya, seolah menahan Sherry agar tetap di tempatnya, seolah takut ia akan lenyap jika dilepaskan. Perlahan, gelombang itu surut. Meninggalkan getaran kecil di sekujur tubuh Sherry, membuatnya lemas seperti kain basah yang diperas terlalu kering. Lalu ia merasakan sesuatu yang hang

