Pagi itu Evana berdiri lama di depan lemari pakaian. Tangannya bersedekap, alisnya berkerut, tatapannya menelusuri deretan gaun, kemeja, blazer, dan setelan kerja yang semuanya terlihat terlalu mewah dan sempurna. “Aduh,” gumamnya pelan. “Kenapa nggak ada satu pun yang kelihatan biasa di sini?” Seolah mendengar keluhannya, Clara muncul mendekati. “Nyonya, saya sudah siapkan tiga pilihan baju kerja hari ini.” Evana menoleh, lalu menggeleng tegas. “Aku mau pakai baju yang paling jelek.” Clara berkedip. Sekali. Dua kali. “Paling jelek, Nyonya?" “Iya,” jawab Evana mantap. “Yang kelihatannya biasa. Murah. Kayak pegawai baru yang gajinya UMK.” Clara terdiam beberapa detik, lalu berbalik ke lemari. Ia membuka satu per satu hanger, memeriksa label, bahan, potongan. Lima menit berlalu. Sepu

