Bab 111. Kritis

1518 Kata

Lampu indikator yang menyala merah di atas pintu ganda itu seolah menjadi mata raksasa yang menatap tajam ke arah Firdaus. Cahayanya menyengat, membakar sisa-sisa ketenangan yang pria itu miliki. Sudah 40 menit berlalu sejak brankar Aura didorong masuk dengan tergesa-gesa. 40 menit yang terasa seperti 40 tahun bagi Firdaus. Firdaus tidak duduk di kursi tunggu. Ia tidak sanggup. Tubuhnya gelisah, mondar-mandir di depan pintu operasi seperti setrikaan panas. Kemeja mahalnya kusut, lengan bajunya digulung asal-asalan, dan rambutnya berantakan karena terus-menerus dijambak oleh tangannya sendiri sebagai pelampiasan frustrasi. "Ya Allah ... aku mohon ya Allah, tolong selamatkan mereka. Tolong jangan ambil kebahagiaan yang baru aku rasakan semalam. Aku menyesal pernah menyakitinya ya Allah, a

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN