Kepanikan yang teredam namun intens melanda koridor menuju lift private access. Jevas berjalan cepat, langkah kakinya lebar dan terburu-buru. Di kedua lengannya, tubuh lemas Aru terkulai tak berdaya. Kepala Aru bersandar di bahu Jevas, tangannya menjuntai ke bawah, berayun seirama dengan langkah cepat suaminya. Gaun hitam velvet itu menyapu lantai marmer sesekali, menciptakan suara sret yang menyayat hati. Di belakang Jevas, Abimana Trisatya mengikuti dengan langkah tak kalah cepat. Wajah dokter itu tegang, namun ia berusaha tetap profesional, menyembunyikan badai kekhawatiran yang berkecamuk di dadanya. "Ibu! Hana!" seru Jevas tanpa menghentikan langkah. Ia menoleh, yang mengikutinya dengan wajah pucat. "Tetap di ballroom!" perintah Jevas tegas, suaranya tak terbantahkan. "Tahan warta

