Pintu kaca tebal yang memisahkan rooftop berangin dengan koridor berpendingin ruangan itu tertutup perlahan di belakang punggung Aru. Aru berdiri sejenak di depan pantulan kaca buram, merapikan anak rambutnya yang berantakan diterpa angin malam. Ia menarik napas dalam, membiarkan paru-parunya menyesuaikan diri kembali dengan udara buatan hotel yang beraroma parfum mahal dan champagne. Dengan langkah yang kembali diatur anggun, Aru berjalan menuju Grand Ballroom. Topeng "Nyonya Mavendra" kembali terpasang sempurna, menutupi wanita rapuh yang tadi menangis di bawah langit. Lima menit kemudian, pintu samping ballroom terbuka. Aru melenggang masuk, menyelinap di antara kerumunan tamu yang sedang sibuk menikmati hidangan penutup, seolah ia tidak pernah pergi ke mana-mana. Tidak lama bersela

