Belum Pulang? Sejak Pagi?

1343 Kata
Taksi konvensional berplat kuning itu melaju pelan menyusuri jalanan aspal yang membelah keheningan hutan pinus. Dua jam perjalanan dari stasiun terasa menyiksa bagi fisik Arunaya yang kian rapuh, namun membasuh jiwanya yang kerontang. L Hiruk-pikuk Jakarta, suara klakson yang memekakkan telinga, dan dinginnya AC sentral, perlahan tergantikan oleh suara gesekan dahan pohon dan aroma tanah basah. Mobil berbelok memasuki sebuah gapura tua berlumut. Di baliknya, terhampar pemandangan yang selalu Aru rindukan dalam tidurnya. Desa Teluk. Sebuah desa yang seolah berhenti berputar mengikuti waktu. Di sana, Danau Teluk membentang luas dengan air berwarna hijau zamrud yang tenang, memantulkan bayangan langit sore yang mulai jingga. Tidak ada speedboat berisik, hanya satu-dua perahu nelayan kecil yang mendayung pelan memeriksa keramba. Di ujung jalan berbatu, tepat di tepi danau, berdiri kokoh sebuah bangunan yang menjadi tujuan akhir Aru. Rumah Nenek. Itu adalah rumah panggung besar bergaya klasik, dibangun sepenuhnya dari kayu jati tua yang warnanya semakin gelap dan indah dimakan usia. Jendela-jendela besarnya terbuka lebar menghadap danau, membiarkan angin sore leluasa masuk menari di dalam ruangan. Rumah ini tidak memiliki kemewahan marmer Italia seperti rumah Mavendra, tapi ia memiliki wibawa. Ia memiliki jiwa. Taksi berhenti di halaman luas yang dipenuhi pohon kamboja tua. Aru membayar supir dan melangkah turun. Kakinya menjejak tanah berumput. Angin danau langsung menyapa wajahnya, menerbangkan ujung rambutnya yang tergerai. Dingin, tapi sejuk. Tidak menusuk seperti dinginnya tatapan Jevas. "Non Aru?" Sebuah seruan kaget terdengar dari samping rumah. Seorang pria paruh baya bertubuh kurus namun liat, mengenakan kaos oblong putih dan celana pangsi, berlari kecil menghampiri. Wajah keriputnya dihiasi senyum lebar yang tulus. Itu Mang Tono, penjaga setia rumah ini sejak Aru masih belajar berjalan. Mang Tono berhenti dua langkah di depan Aru, lalu membungkukkan badannya sopan, gesture penghormatan tulus abdi dalem kepada majikannya. "Ya Gusti... Non Aru? Anda pulang?" tanya Mang Tono dengan mata berbinar, seolah tidak percaya putri kecil rumah ini berdiri di hadapannya. Aru tersenyum. Senyum pertamanya hari ini yang benar-benar mencapai mata. "Apa kabar, Mang?" "Baik, Non. Sangat baik. Apalagi melihat Non Aru di sini," jawab Mang Tono antusias, lalu buru-buru mengambil alih tas jinjing di tangan Aru. "Tapi kok sendirian? Den Jevas mana?" Pertanyaan wajib itu muncul lagi. "Dia sibuk kerja, Mang. Saya ingin liburan sendiri," jawab Aru tenang, sudah terbiasa dengan skrip kebohongannya. "Oalah... ya sudah. Mari masuk, Non. Mari." Mereka berjalan menaiki tangga kayu menuju beranda depan. Setiap langkah kaki Aru menimbulkan bunyi krekit pelan dari lantai papan, suara yang familiar, suara "selamat datang". Begitu pintu utama dibuka, aroma khas itu langsung menyergap Aru. Aroma kayu jati tua, minyak sereh, dan kenangan. Aroma pelukan Nenek. Di ruang tamu yang luas tanpa sekat itu, perabotan antik masih tertata rapi di tempatnya. Kursi goyang rotan di sudut, lemari hias berisi piring keramik kuno, dan foto-foto hitam putih keluarga di dinding. Semuanya membeku dalam waktu. Aru berdiri di tengah ruangan, menghirup aroma itu dalam-dalam, membiarkannya mengisi paru-parunya yang sakit. Di sini, dia bukan Nyonya Mavendra yang terbuang. Di sini, dia adalah cucu kesayangan yang dicintai. "Mang," panggil Aru pelan. "Dalem, Non?" "Saya mau menginap beberapa hari," ucap Aru, matanya menatap pintu kamar utama di sisi timur rumah. Pintu dengan ukiran bunga teratai yang rumit. "Tolong minta Mbok Isah siapkan kamar. Saya mau tidur di kamar Nenek." Mang Tono tertegun sejenak. Kamar mendiang Nenek jarang dipakai kecuali untuk dibersihkan. Biasanya Aru tidur di kamarnya sendiri di lantai atas. Meminta tidur di kamar Nenek berarti Aru sedang mencari perlindungan. Mencari kehangatan sisa-sisa sosok yang sudah tiada. Melihat wajah Aru yang pucat dan matanya yang redup, Mang Tono mengerti tanpa perlu dijelaskan. "Baik, Non. Segera saya panggilkan Mbok Isah untuk ganti spreinya dengan yang wangi melati kesukaan Non," jawab Mang Tono lembut. "Non istirahat dulu di sini. Wajah Non pucat sekali." Mang Tono membungkuk lagi, lalu beranjak pergi ke arah dapur belakang, meninggalkan Aru sendirian dalam keheningan rumah besar itu. Aru berjalan gontai menuju sofa panjang beludru merah marun di tengah ruangan. Tubuhnya akhirnya menyerah. Adrenalin yang menopangnya selama perjalanan kereta dan pertemuan dengan Abimana kini menguap habis. Aru menjatuhkan dirinya ke sofa empuk itu. Ia menyandarkan kepalanya, memejamkan mata. Dunia berputar. Rasa pusing yang hebat menghantam kepalanya seperti ombak pasang. Di balik kelopak matanya yang terpejam, bayangan wajah Jevas berkelebat. Wajah dinginnya, punggungnya yang menjauh, dan caranya tersenyum pada Hana. Tapi anehnya, rasa sakit di hatinya tidak setajam saat di Jakarta. Jarak ratusan kilometer ini memberinya perisai. Di sini, Jevas tidak bisa menyakitinya. Di sini, dia aman. Setetes air mata lolos dari sudut mata Aru yang terpejam, mengalir pelan menuruni pipi tirusnya, lalu jatuh membasahi bantal sofa yang berbau debu dan kapur barus. "Nek..." bisik Aru lirih pada ruang kosong itu. "Cucu Nenek pulang... Cucu Nenek lelah..." Tidak ada jawaban selain suara angin danau yang bersiul di sela-sela jendela. Tapi bagi Aru, itu sudah cukup. Keheningan Desa Teluk memeluknya lebih erat daripada yang pernah dilakukan suaminya selama tiga tahun pernikahan. *** Sementara itu, ratusan kilometer jauhnya di Jakarta. Jam dinding digital di dashboard mobil Mercedes-Benz S-Class menunjukan pukul 22.00 WIB. Gerbang otomatis kediaman Mavendra terbuka perlahan. Jevas memarkirkan mobilnya di garasi. Hari ini sangat melelahkan. Proyek merger perusahaan memakan energinya, ditambah ia harus mampir ke rumah Hana sepulang kantor untuk mengantar mainan susulan yang Leo minta. Jevas melonggarkan dasinya, mengambil tas kerjanya, dan berjalan menuju pintu utama. Di kepalanya, ia sudah membayangkan skenario rutin. Lampu teras yang menyala, pintu yang tidak dikunci, dan saat ia masuk, Aru akan menyambutnya. Mungkin dengan wajah sembab sisa menangis, mungkin dengan permintaan maaf karena sudah "kabur" seharian. Jevas sudah menyiapkan kalimat dingin untuk menegurnya sedikit sebelum memaafkannya. Jevas membuka pintu utama. Gelap. Tidak ada lampu ruang tengah yang menyala. Tidak ada aroma masakan atau pengharum ruangan. Rumah itu gelap gulita dan dingin, persis seperti gua. Alis Jevas berkerut. Ia meraba dinding, menekan saklar lampu utama. Klik. Cahaya kristal chandelier membanjiri ruangan, menyinari kemewahan yang kosong. Tidak ada siapa-siapa. "Arunaya?" panggil Jevas. Suaranya bergema, memantul kosong. Hening. Jevas mulai merasa jengkel. Apa wanita itu sudah tidur? Apa dia masih merajuk dan mengunci diri di kamar tamu seperti semalam? Dengan langkah lebar, Jevas menaiki tangga menuju lantai dua. Ia langsung menuju kamar tamu. Pintunya tidak terkunci. Jevas membukanya kasar. Kosong. Tempat tidur itu rapi, tak tersentuh. Rasa jengkel berubah menjadi sedikit kekhawatiran yang bercampur dengan kemarahan. Ia berjalan cepat ke kamar utama mereka. Kosong juga. Jevas mengecek kamar mandi, walk-in closet, bahkan balkon. Nihil. Ia turun kembali ke lantai satu, menuju dapur. Di sana, ia menemukan Bik Sumi sedang membereskan sisa cucian piring sendirian. "Di mana dia?" tanya Jevas tajam, membuat Bik Sumi terlonjak kaget hingga hampir menjatuhkan gelas. "Eh, Tuan... Tuan sudah pulang?" Bik Sumi tergagap. "Nyonya... Nyonya belum pulang, Tuan." "Belum pulang?" Jevas menatap jam tangannya. Pukul sepuluh lewat lima belas menit. "Sejak pagi?" "Iya, Tuan. Sejak pamit tadi pagi, Nyonya belum kembali. Saya pikir Nyonya menyusul Tuan ke kantor atau ke rumah Ibu Hana..." Rahang Jevas mengeras. Urat-urat di lehernya menegang. Seorang istri pergi tanpa izin sejak pukul tujuh pagi dan belum kembali hingga tengah malam? Ini bukan sekadar merajuk. Ini pembangkangan. Jevas merogoh saku celananya, mengeluarkan ponselnya dengan kasar. Ia menekan nomor Aru di panggilan cepat nomor 1. Tut... Tut... Tut… Tersambung. Tapi tidak diangkat. Panggilan kedua. Tidak diangkat. Panggilan ketiga. Masih sama. Jevas membanting ponselnya ke sofa ruang tengah. Napasnya memburu. Ia menatap sekeliling rumah mewahnya. Untuk pertama kalinya, ia menyadari betapa luas dan mengerikannya rumah ini tanpa kehadiran sosok diam yang biasa mengisi sudut-sudutnya. "Baik," desis Jevas pada keheningan yang mengejeknya. Matanya berkilat marah. "Kau mau bermain-main denganku, Arunaya? Kita lihat berapa lama kau bisa seperti ini.” Jevas yakin Aru hanya pergi ke hotel atau rumah teman sosialitanya untuk mencari perhatian. Ia tidak tahu, bahwa wanita yang ia tunggu itu kini sedang meringkuk di rumah kayu tua ratusan kilometer jauhnya, berjuang melawan maut yang mengintai di dalam tubuhnya. Jevas melonggarkan kancing kemejanya, berjalan menuju bar mini di sudut ruangan untuk menuang whisky. Ia berniat menunggu. Ia yakin, satu atau dua jam lagi, Aru akan pulang memohon maaf. Ia menuang minuman keras itu ke gelas, menatap cairan amber itu dengan tatapan berapi-api.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN