Dan Kau… sedang Sekarat

1226 Kata
Suara roda besi yang beradu dengan rel menciptakan irama monoton yang menghipnotis. Di luar jendela kaca tebal gerbong Luxury, pemandangan kota Jakarta yang padat perlahan berganti menjadi hamparan sawah hijau dan rumah-rumah penduduk yang berjarak. Namun, keindahan lansekap itu tidak mampu mencairkan ketegangan yang membeku di antara kursi 2A dan 2B. Arunaya masih mematung di posisinya. Tangan kanannya mencengkeram erat tali tas jinjing di pangkuan, seolah tas itu adalah satu-satunya pelampung di tengah lautan badai. Pernyataan Abimana tadi tentang "hal yang harus dibicarakan tanpa gangguan Shankara", masih berdengung di telinganya. Itu adalah kalimat berbahaya. Kalimat yang menyiratkan bahwa Abimana tahu Aru sedang menyembunyikan bangkai besar di balik senyum sopannya. Aru menegakkan punggungnya. Ia menarik nafas pendek, lalu menatap Abimana dengan sorot mata yang ia usahakan terlihat tersinggung, namun tetap elegan. "Aku pikir tidak ada yang harus dibahas tanpa sepengetahuan suamiku," ucap Aru dingin. Suaranya datar, namun tegas. "Keberadaanku di rumah sakit kemarin, Mas Jevas tahu. Dia tahu semua jadwal medis dan kegiatanku." Itu adalah kebohongan yang rapi. Mendengar itu, Abimana tidak langsung menjawab. Pria itu menutup buku tebal di tangannya, sebuah novel klasik Rusia, bukan jurnal medis, dan meletakkannya di meja lipat. Ia memundurkan punggungnya, bersandar santai pada jok kulit yang empuk. Kedua tangannya terlipat di depan d**a. Postur itu memancarkan aura d******i yang kental. Berbeda dengan d******i Jevas yang dingin dan menuntut, d******i Abimana terasa matang, tenang, dan observatif. Ia tidak perlu meninggikan suara untuk membuat lawan bicaranya merasa "tertelanjangi". Tatapan Abimana di balik lensa kacamatanya menyapu wajah Aru, seolah sedang membaca hasil rontgen. Ia mencari celah retakan di topeng wanita itu. "Ucapanku tidak mengarah ke sana," balas Abimana tenang. Jantung Aru berdetak satu tempo lebih cepat. Ia menahan nafas, menahan diri sekuat tenaga agar tidak terlihat kaget atau panik. Abimana kemudian mengubah posisinya, duduk lebih tegak namun tetap santai. Ia tersenyum tipis, senyum yang sulit diartikan. "Jangan takut," lanjutnya, nadanya melunak. "Aku hanya asal bicara. Sekadar basa-basi perjalanan." Aru menghembuskan napas yang tertahan tanpa sadar. Namun, rasa lega itu hanya bertahan sedetik. "Dan lagi," tambah Abimana, matanya kini menatap lurus ke manik mata Aru, "aku bukan manusia yang suka ikut campur rumah tangga orang lain. Itu bukan ranahku." Abimana menjeda kalimatnya. Ia mengambil cangkir kopi yang disediakan pramugari kereta, menyesapnya perlahan, membiarkan keheningan menggantung. "Tapi, kalau boleh saran..." Abimana meletakkan cangkirnya kembali. Suaranya merendah, terdengar seperti seorang kakak yang menasihati adiknya, atau seorang dokter yang memperingatkan pasien bebal. "...jangan menutupi sesuatu dari pasanganmu. Apapun itu. Meski hal terkecil, atau hal yang kau anggap demi kebaikannya." Jari-jari Aru di bawah tas mengepal hingga memutih. "Rahasia itu seperti kanker, Naya," lanjut Abimana, pemilihan katanya begitu presisi hingga membuat Aru merinding. "Awalnya kecil, tidak terasa. Tapi diam-diam dia menggerogoti fondasi, sampai akhirnya ketika kau sadar, semuanya sudah terlambat untuk diselamatkan. Hancur." Aru terpaku. Apakah Abimana tahu? Apakah dia melihat amplop itu? Atau ini hanya naluri seorang pria dewasa yang peka? Abimana mengangkat bahu ringan, kembali mengambil bukunya. "Jangan salah mengartikan ucapanku. Anggap saja saran dari senior yang sudah lebih dulu makan asam garam pernikahan. Kalau kau tidak tahu, ku beri tahu, aku duda? Aku belajar banyak dari kegagalanku." Pria itu kembali membuka halaman bukunya, memutus kontak mata, memberikan ruang bagi Aru untuk bernapas. Dia seolah berkata: 'Aku tahu kau bohong, tapi aku akan membiarkanmu menyimpannya untuk saat ini.' Aru tidak menjawab. Lidahnya kelu. Saran itu terdengar ironis di telinganya. Jangan menutupi sesuatu dari pasanganmu. Bagaimana Aru bisa terbuka pada Jevas, jika suaminya sendiri menutup mata dan telinga? Bagaimana ia bisa jujur tentang kematiannya, jika Jevas bahkan tidak ingat tentang alerginya? Kejujuran membutuhkan dua pihak, satu yang bicara, dan satu yang mau mendengar. Di pernikahan Aru, pendengar itu tidak pernah ada. Aru memalingkan wajahnya ke kiri. Ia menggeser tubuhnya merapat ke tepi jendela, memunggungi Abimana. Di luar sana, tiang-tiang listrik dan pepohonan melesat secepat kilat, menjadi garis-garis buram yang pusing untuk dilihat. Aru menatap pantulan wajahnya sendiri di kaca jendela yang gelap. Wajah yang lelah. Wajah yang menyimpan rahasia kematian sendirian. ‘Kau tidak mengerti,’ batin Aru lirih. ‘Kadang, berbohong adalah satu-satunya cara untuk pergi dengan harga diri.’ Perjalanan itu berlanjut dalam hening. ** Dua jam berlalu. Aru berpura-pura tidur, meski matanya terpejam gelisah menahan nyeri di perut kanannya yang kumat karena guncangan kereta. Ia tidak berani mengambil obat di tasnya karena takut Abimana melihat label botolnya. Ia memilih menggigit bibir bagian dalam sampai berdarah untuk mengalihkan rasa sakit. Sementara di seberangnya, Abimana sesekali melirik. Ia melihat keringat dingin yang muncul di dahi Aru meski suhu AC sangat rendah. Ia melihat tangan wanita itu yang sesekali menekan perut. Abimana tidak bertanya lagi. Ia hanya diam, menyimpan observasinya dalam kotak memori, menunggu waktu yang tepat. "Sesaat lagi kereta akan tiba di Stasiun Desa Teluk. Bagi penumpang yang akan mengakhiri perjalanan..." Pengumuman dari speaker memecah kebisuan panjang selama enam jam. Aru membuka matanya. Langit di luar sudah berubah jingga kemerahan. Matahari mulai tergelincir turun. Mereka sudah sampai di pesisir utara. Aru segera membereskan barang-barangnya dengan gerakan cepat, sedikit terburu-buru. Ia ingin segera berpisah dari Abimana. Berada di dekat pria ini terasa seperti berjalan di atas tali tipis di atas jurang, satu kesalahan kecil, dan rahasianya akan jatuh. Kereta melambat, lalu berhenti dengan decitan rem yang halus. Pintu gerbong terbuka. Aroma udara laut yang asin bercampur bau tanah basah langsung menyeruak masuk. Udara Desa Teluk. Udara kampung halaman Neneknya. "Hati-hati, tangganya agak tinggi," suara Abimana terdengar di belakangnya saat Aru hendak turun. Aru tidak menoleh. Ia menuruni tangga kereta dengan hati-hati, kakinya menapak peron stasiun yang sederhana dan lengang. "Terima kasih," ucap Aru tanpa melihat lawan bicaranya, lalu segera melangkah menjauh. "Aku duluan. Ada jemputan yang menunggu." Lagi-lagi bohong. Tidak ada yang menjemputnya. Ia akan jalan kaki atau naik ojek pangkalan. "Naya," panggil Abimana. Langkah Aru terhenti sejenak, tapi ia tidak berbalik. "Jaga dirimu," ucap Abimana singkat. Nadanya tulus. Aru hanya mengangguk kecil, lalu mempercepat langkahnya, setengah berlari kecil menuju pintu keluar stasiun. Sosok mungilnya yang berbalut coat krem perlahan mengecil, berbaur dengan beberapa penumpang lokal yang membawa kardus dan karung hasil bumi. Di peron stasiun yang mulai sepi, Abimana masih berdiri di samping pintu gerbong. Ia tidak langsung beranjak mencari jemputan dinasnya. Ia memasukkan satu tangan ke saku celana, sementara tangan lainnya memegang tas kerjanya. Matanya yang tajam terpaku pada punggung Aru yang semakin menjauh. Ia melihat cara jalan Aru yang sedikit pincang dan membungkuk, seolah menahan beban berat di sisi kanan tubuhnya. Ia melihat betapa rapuhnya wanita itu saat tidak sedang bersandiwara menjadi Nyonya Mavendra yang sempurna. Angin sore menerbangkan sedikit rambut Abimana. "Kau berbohong," gumam Abimana pelan, suaranya hilang ditelan suara klakson lokomotif. "Shankara tidak tahu apa-apa. Dan kau... sedang sekarat." Sebagai dokter senior, insting Abimana jarang salah. Warna kulit Aru yang jaundice (sedikit kekuningan) di bawah lampu kereta tadi, penurunan berat badan drastis, dan nyeri perut kanan atas. Tanda-tandanya terlalu jelas bagi mata terlatihnya. Abimana menghela nafas panjang. Ia mengeluarkan ponselnya. Ada keinginan kuat untuk menelepon Jevas dan memaki sahabatnya itu karena kebodohannya. Tapi jarinya berhenti di atas layar. Jangan ikut campur, ingatnya pada prinsipnya sendiri. Namun, saat melihat Aru menghilang di balik tikungan pintu keluar stasiun yang berdebu, Abimana tahu satu hal… Dia tidak akan bisa diam saja melihat wanita itu berjalan sendirian menuju kematiannya. Abimana memasukkan kembali ponselnya ke saku, lalu berjalan pelan mengikuti jejak Aru dari kejauhan. Bukan untuk menyapa, tapi untuk memastikan wanita itu tidak ambruk di pinggir jalan antah berantah ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN