"Ya ampun, Non Aru... kau terlihat jauh lebih kurus dari terakhir kali kita bertemu." Suara paruh baya yang sarat akan kekhawatiran keibuan itu memecah suasana santai di ruang tamu bergaya klasik tersebut. Istri Pak Darma, wanita bertubuh gempal dengan kebaya sederhana dan kain batik yang melilit pinggangnya, menatap Arunaya dengan sepasang mata yang menyipit cemas. Wanita itu duduk di sofa seberang meja, tepat di sebelah suaminya, Pak Darma, yang merupakan tangan kanan mendiang kakek Aru sekaligus pemegang kendali seluruh operasional bisnis di Desa Teluk. Aru yang duduk di sofa panjang hanya tersenyum simpul. Ia meletakkan cangkir teh melatinya ke atas tatakan porselen dengan gerakan pelan yang sangat anggun. "Matamu juga sayu, Non," lanjut istri Pak Darma, mencondongkan tubuhnya ke d

