Suara click pintu yang tertutup di belakang punggung Arunaya menyisakan keheningan yang berat di ruang konsultasi Poli Onkologi itu. Dokter Raka melepas kacamatanya, memijat pangkal hidungnya yang berdenyut nyeri. Ia baru saja melakukan sesuatu yang bertentangan dengan hati nuraninya sebagai penyembuh, memberikan tiket "bunuh diri perlahan" kepada pasien yang masih punya harapan hidup, hanya demi sebuah pesta topeng keluarga konglomerat. "Gila..." desis Raka pada udara kosong. "Orang kaya memang punya cara berpikir yang gila." Raka baru saja akan meraih ponselnya untuk memesan makan siang yang terlambat, ketika gagang pintu ruangannya kembali bergerak. Pintu terbuka perlahan. Raka mendongak, wajahnya sudah siap memasang senyum profesional untuk pasien nomor antrean selanjutnya. "Silaka

