Sejak Kapan? Jangan Manja

1314 Kata
Jumat malam adalah tradisi sakral bagi keluarga besar Mavendra. Di ruang makan utama yang diterangi chandelier kristal seharga satu unit apartemen mewah, tiga generasi berkumpul. Ibu Jevas, Nyonya Besar Ratna, duduk di ujung meja dengan wibawa matriarkatnya. Di sisi kanannya duduk Jevas, dan di sebelah Jevas, duduk Leo serta Hana. Sementara Arunaya, sang Nyonya Muda, duduk di sisi kiri meja. Berhadapan langsung dengan Hana, namun terasa berjarak ribuan mil jauhnya. Meja panjang itu penuh dengan hidangan seafood kualitas terbaik: kepiting saus padang, lobster bakar madu, dan udang galah goreng mentega. Aroma amis laut yang mewah menguar di udara. Suasana sangat hidup. Suara denting sendok perak beradu dengan piring porselen Hermes bersahut-sahutan dengan tawa renyah Leo. "Oma, lihat! Paman Jevas mengupaskan kulit kepitingnya bersih sekali!" seru Leo antusias, memamerkan daging kepiting di piringnya. Nyonya Ratna tersenyum lebar, menatap cucu kesayangannya dengan tatapan memuja. "Paman memang paling pintar mengurus Leo. Persis seperti mendiang Ayahmu dulu. Makan yang banyak ya, Sayang, biar cepat besar." Leo mengangguk. "Terima kasih, Paman!" "Sama-sama, Jagoan," sahut Jevas. Suaranya terdengar ringan, tanpa beban. Ia sibuk memecahkan cangkang kepiting lain, bukan untuk dirinya, tapi untuk ditaruh di piring Hana. "Untukmu. Kau kurusan karena begadang menjaga Leo." Hana tersipu malu, menunduk sedikit. "Terima kasih. Jadi nggak enak sama Mbak Aru, masa aku dilayani terus." Mendengar namanya disebut, Aru hanya mengangkat wajahnya sedikit. Ia sedang memotong kecil-kecil brokoli rebus di piringnya, satu-satunya makanan yang ia ambil karena perutnya masih menolak makanan berat. "Tidak apa-apa. Nikmati saja," ucap Aru pelan. Suaranya tenang, datar, dan sopan. Sangat elegan. Tidak ada nada sindiran. Tidak ada cemburu. Wajah Aru sehalus dan sedingin topeng porselen. Ia duduk tegak, punggungnya tidak menyentuh sandaran kursi, mengunyah dengan gerakan lambat dan anggun yang telah diajarkan padanya sejak kecil sebagai putri keluarga terpandang. Nyonya Ratna melirik menantunya sekilas dengan tatapan kritik. "Kenapa hanya makan sayur? Lihat badanmu, tinggal tulang. Nanti orang pikir keluarga Mavendra tidak memberimu makan. Cobalah bersikap lebih hidup sedikit di meja makan." "Maaf, Bu. Perut Ku sedang kurang nyaman," jawab Aru singkat tanpa membela diri. "Alasan terus," gumam Nyonya Ratna, lalu kembali mengalihkan perhatian pada Leo yang sedang menceritakan teman sekolahnya. Aru kembali menjadi hantu. Ia menyimak pembicaraan mereka seperti penonton yang melihat layar bioskop bisu. Ia melihat bagaimana mata Jevas berbinar saat menanggapi celotehan Leo. Ia melihat bagaimana Hana tertawa menutup mulut dengan sopan saat Nyonya Ratna membuat lelucon. Mereka adalah lukisan keluarga bahagia yang utuh. Aru adalah pigura retak yang membingkainya. Tiba-tiba, Leo menghentikan suapannya. Bocah itu menatap lurus ke arah Aru. Mata bulatnya yang jernih menatap Aru lekat-lekat. "Bibi" panggil Leo. Seketika, denting sendok berhenti. Keheningan turun di meja makan. Semua mata, Nyonya Ratna, Hana, dan Jevas, kini tertuju pada Aru. Aru meletakkan pisau dan garpunya perlahan. Ia tersenyum tipis pada bocah itu. "Ya, Sayang?" "Terima kasih hadiah Lego-nya," ucap Leo tulus, senyumnya merekah lebar hingga menampakkan gigi susunya yang tanggal satu. "Aku suka sekali! Itu seri kapal bajak laut yang aku mau dari dulu." Hati Aru menghangat sedikit. Setidaknya, ada satu manusia di meja ini yang melihatnya. "Bibi senang mendengarnya." Leo memiringkan kepalanya, menatap Aru dengan polos. "Dan... Bibi cantik sekali malam ini. Gaun Bibi warnanya seperti putri salju." Hana tersenyum. Nyonya Ratna mendengus pelan namun tak berkomentar. Aru merasakan pandangan tajam dari arah samping. Ia tahu itu Jevas. Tapi Aru tidak menoleh. Ia tetap memusatkan perhatiannya pada Leo, satu-satunya titik terang di ruangan ini. "Terima kasih pujiannya," jawab Aru lembut. Nada suaranya terdengar keibuan, namun ada jarak kesedihan di sana. "Dan Leo juga sangat tampan malam ini. Seperti pangeran kecil." Aru menatap mata anak itu dalam-dalam, seolah ingin menyampaikan pesan perpisahan tersirat. "Jangan sakit lagi ya," lanjut Aru. "Ibumu sangat khawatir kemarin. Jangan menyusahkannya... hm?" Di kursinya, Jevas tertegun. Ia memegang gelas wine-nya, namun tidak meminumnya. Matanya terpaku pada profil samping wajah istrinya. Ada yang berbeda dengan Aru malam ini. Biasanya, Aru akan menatap Jevas dengan tatapan memuja, mencari validasi, atau mencoba masuk ke dalam percakapan. Tapi malam ini, Aru tampak... jauh. Sangat jauh. Wanita itu duduk di sana, tapi kehadirannya terasa transparan. Dan saat Aru bicara pada Leo tadi, nada suaranya terdengar final. Jevas merasa terganggu dengan ketenangan istrinya. Rasa dominannya terusik. Ia ingin Aru menoleh padanya. Ia ingin Aru bereaksi. Tanpa sadar, tangan Jevas bergerak. Ia mengambil seekor udang galah besar yang sudah dikupas, mencelupkannya ke saus mentega, lalu meletakkannya di piring Aru. Suara udang jatuh di piring porselen Aru memecah lamunan semua orang. Aru membeku. Matanya menatap ngeri pada benda oranye kemerahan di piringnya. "Makanlah," perintah Jevas dengan nada datar, namun ada intensitas di matanya. "Ibu benar, kamu terlalu kurus. Jangan membuatku terlihat seperti suami yang pelit memberi makan." Itu adalah bentuk "perhatian" ala Jevas. Kasar, kaku, dan penuh gengsi. Masalahnya satu… Jevas lupa. Jevas lupa bahwa tiga tahun lalu, saat bulan madu yang gagal, Aru pernah masuk UGD karena memakan seafood. Jevas lupa bahwa istrinya memiliki alergi parah terhadap udang. Di seberang meja, Hana tersenyum, mengira itu momen romantis. "Ayo coba, Mbak. Udangnya manis.” Nyonya Ratna juga menatap, menunggu Aru menghabiskan makanan itu sebagai bentuk penghormatan. Tangan Aru gemetar di bawah meja. Jika ia menolak dengan kalimat, "Maaf Mas, aku alergi." Jevas akan merasa dipermalukan di depan ibunya. Suasana akan rusak. Jevas akan berkata, "Sejak kapan? Jangan manja." Dan Aru harus menjelaskan panjang lebar, mengemis ingatan suaminya. Itu menyedihkan. Aru tidak ingin mengemis lagi. Ia juga tidak ingin merusak kebahagiaan Leo yang baru sembuh. Biarlah, batin Aru pasrah. Sakit ini tidak akan sebanding dengan kanker yang memakan hatiku. Dengan gerakan perlahan, Aru mengambil garpu. Ia menusuk udang itu. Jevas menatapnya lekat, menunggu. Aru memasukkan udang itu ke mulutnya. Mengunyahnya pelan. Rasanya gurih, tapi bagi Aru, itu rasa racun. Ia menelannya dengan susah payah, diikuti tegukan air putih yang banyak. "Enak?" tanya Jevas. Aru menoleh pada suaminya. Untuk pertama kalinya malam itu, mata mereka bertemu. Mata Jevas yang tajam dan menuntut, bertemu dengan mata Aru yang berkabut dan kosong. "Terima kasih," ucap Aru lirih. Satu menit berlalu. Reaksi itu datang secepat kilat. Dimulai dari rasa gatal yang menjalar liar di langit-langit mulutnya, lalu turun membakar tenggorokan. Kerongkongannya terasa menyempit drastis. Wajahnya mulai terasa panas dan menebal. Nafasnya mulai memendek. Aru meletakkan serbet di meja. Ia harus pergi sebelum ia ambruk di sini. Ia tidak mau mati di depan sup kepiting. "Maaf," Aru berdiri. Kakinya goyah, menabrak kaki kursi hingga menimbulkan bunyi decit yang ngilu. "Mau ke mana lagi?" tanya Nyonya Ratna ketus. "Makanan belum habis." "Toilet... sebentar," cicit Aru. Suaranya sudah berubah, serak dan terjepit. Tanpa menunggu izin, Aru berbalik dan berjalan cepat, setengah berlari, meninggalkan ruang makan. "Dasar tidak sopan," terdengar gerutuan Nyonya Ratna di kejauhan. "Biarkan saja, Bu," suara Jevas terdengar santai, kembali melanjutkan makannya. Di lorong menuju kamar mandi tamu, Aru meraba lehernya. Merah. Kulitnya mulai timbul ruam-ruam merah yang mengerikan. Nafasnya berbunyi ngiik kecil. Uhuk! Aru menabrak pintu kamar mandi, masuk ke dalam, dan langsung mengunci pintu. Dunia berputar. Oksigen seolah ditarik paksa dari paru-parunya. Aru mencengkram pinggiran wastafel marmer, berusaha memuntahkan kembali udang itu. Tapi tenggorokannya sudah terlalu bengkak. Ia tersedak. Air mata mengalir deras bukan karena sedih, tapi karena reaksi fisiologis tubuh yang sekarat. Ia merogoh saku gaunnya, mencari ponsel, tapi tangannya terlalu licin oleh keringat dingin. Ponsel itu tergelincir, jatuh ke lantai, tergeletak jauh di sudut ruangan. Aru merosot ke lantai. Punggungnya bersandar pada pintu kayu yang dingin. Ia mendongak, mulutnya terbuka lebar berusaha meraup udara yang terasa sangat tipis. Dari balik pintu, sayup-sayup terdengar suara tawa Jevas dan Leo dari ruang makan. Mereka tertawa bahagia. Sementara di sini, hanya terpisah beberapa meter dan selembar pintu kayu, Aru sendirian, mencakar lehernya sendiri, berjuang untuk satu tarikan nafas di lantai kamar mandi yang dingin. Pandangan Aru mulai menggelap. Titik-titik hitam menari di matanya. ‘Begini rasanya mati...’ batin Aru pasrah, kesadarannya mulai melayang. ‘Setidaknya, aku tidak merusak makan malam mereka.’ Di luar, denting garpu masih terdengar merdu. Tidak ada yang tahu. Tidak ada yang mencari.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN