Leo butuh Seorang Ayah

1388 Kata
Taksi yang ditumpangi Arunaya berhenti di depan sebuah gerbang besi tempa berwarna putih gading. Ini bukan pertama kalinya Aru datang ke sini. Rumah ini terletak di kawasan perumahan yang asri di Jakarta Selatan, hanya berjarak dua puluh menit dari kediaman mewah Mavendra. Namun, setiap kali Aru menjejakkan kaki di sini, rasanya seperti melangkah masuk ke dunia paralel. Dunia di mana Jevas memiliki sisi manusiawi. Aru membayar taksi dan melangkah turun. Matahari siang terasa menyengat, namun tubuhnya masih menggigil sisa dari pendingin ruangan rumah sakit. Ia merapatkan cardigan rajutnya, menutupi lengan kurusnya, lalu menekan bel intercom. Tak lama, pintu utama terbuka. Sosok wanita muda dengan apron bermotif bunga matahari berlari kecil keluar menyambutnya. Rambutnya dikuncir kuda asal-asalan, wajahnya polos tanpa make-up tebal, namun memancarkan aura kesegaran yang alami. Hana. Wanita yang dicintai semua orang. Ipar yang "sempurna" di mata keluarga besar Mavendra. "Mbak Aru?" Hana terpekik pelan, matanya membola karena terkejut. Ia buru-buru membuka gerbang kecil, senyum manis langsung merekah di bibirnya. "Ya ampun, tumben sekali Mbak main ke sini siang-siang. Kenapa tidak telepon dulu?" Aru memaksakan senyum terbaiknya. Senyum yang menyembunyikan fakta bahwa ia baru saja divonis mati satu jam yang lalu. "Kebetulan aku lewat daerah sini, Han." Hana menyeka tangannya yang sedikit basah ke apron, wajahnya tampak tidak enak hati. "Mas Jevas baru saja pergi sepuluh menit yang lalu. Dia buru-buru balik ke kantor karena ada meeting mendadak setelah memastikan Leo tidur. Kalau Mbak datang lebih cepat, pasti ketemu." Kalimat itu meluncur polos, namun menghujam tepat di ulu hati Aru. Jevas di sini. Tentu saja. Suaminya rela meninggalkan kantor demi demam anak kecil, lalu kembali ke kantor setelah memastikan semuanya aman. Dedikasi yang luar biasa. Dedikasi yang tak pernah Aru dapatkan. "Aku kemari bukan untuknya," jawab Aru lembut. Suaranya tenang, menyamarkan getar perih di dadanya. "Aku dengar Leo demam tinggi. Aku khawatir." Aru mengangkat paper bag di tangan kanannya. "Aku bawakan mainan rakitan Lego seri terbaru. Dia pernah bilang ingin ini waktu kita makan malam bersama bulan lalu." Mata Hana berbinar, tersentuh dengan perhatian itu. "Astaga, Mbak... padahal Mbak sibuk sekali, tapi masih ingat celotehan Leo. Masuk, Mbak. Ayo masuk.” Hana menggiring Aru masuk ke dalam rumah. Begitu pintu terbuka, udara hangat langsung menyapa kulit Aru. Bukan hangat karena suhu, tapi hangat karena kehidupan. Rumah Hana tidak sebesar kediaman Mavendra yang seperti istana. Ukurannya mungkin hanya separuhnya. Namun, rumah ini "bernapas". Di ruang tamu, ada aroma samar kue kering yang baru dipanggang bercampur wangi pewangi ruangan aroma vanila. Ada mainan mobil-mobilan yang tergeletak sembarangan di karpet bulu yang tebal. Di dinding, berderet bingkai foto keluarga yang penuh tawa. Ada foto mendiang adik Jevas, foto Hana, Leo, dan... tentu saja, foto Jevas yang sedang menggendong Leo di bahunya saat liburan ke Bali tahun lalu. Di foto itu, Jevas tertawa lepas. Matanya menyipit membentuk bulan sabit. Gigi putihnya terlihat jelas. Aru terpaku sejenak menatap foto itu. Ia bahkan lupa kapan terakhir kali melihat suaminya tertawa seperti itu di rumah mereka sendiri. Di rumah Mavendra, Jevas adalah patung es yang indah tapi mematikan. Di sini, dia adalah matahari. "Maaf ya Mbak, rumahnya berantakan," ujar Hana sambil membereskan majalah di sofa. "Sejak Leo sakit semalam, aku tidak sempat beres-beres. Mas Jevas tadi sempat bantu rapihin dapur sebelum pergi." Aru tersenyum getir. Jevas membereskan dapur? Pria yang bahkan tidak pernah menyentuh piring kotor di rumahnya sendiri? "Tidak apa-apa, Han. Rumah ini terasa... nyaman," gumam Aru. "Sangat hidup." Berbeda dengan rumahku yang seperti makam marmer, lanjutnya dalam hati. "Mau minum apa, Mbak? Jus jeruk? Atau teh hangat?" tawar Hana antusias. "Air putih saja." Hana mengangguk, mempersilakan Aru duduk, lalu menghilang ke dapur. Aru duduk di sofa yang empuk. Bantal sofa itu memiliki aroma maskulin yang familiar. Aroma parfum Jevas. Suaminya pasti duduk di sini tadi, menjaga "keluarganya". Dada Aru kembali sesak. Ia meremas perutnya pelan. Sakit fisiknya mulai mereda berkat obat, tapi sakit di hatinya justru semakin menjadi-jadi melihat betapa natural-nya kehadiran Jevas di rumah ini. Tak lama, Hana kembali dengan segelas air dan toples kue. "Gimana Leo?" tanya Aru, mengalihkan fokus dari rasa sakitnya. Hana menghela napas, duduk di seberang Aru. Wajahnya menyiratkan kekhawatiran seorang ibu. "Semalam dia masih sehat, lari-larian main bola sama Mas Jevas di halaman. Eh, subuh tadi badannya panas tinggi sampai mengigau panggil Ayahnya. Aku panik banget, untung Mas Jevas langsung angkat telepon." "Syukurlah," ucap Aru pelan. "Syukurlah ada Jevas." "Iya, Mbak. Aku tidak tau harus gimana kalau nggak ada Mas Jevas," mata Hana berkaca-kaca, penuh rasa syukur yang tulus. "Dia benar-benar pengganti Ayah yang sempurna buat Leo. Kadang aku merasa bersalah sama Mbak karena sering merepotkan Mas Jevas..." Hana menatap Aru dengan tatapan bersalah yang lugu. "Mbak tidak marah kan?" tanyanya hati-hati. Aru menatap wanita di depannya. Hana cantik, subur, dan sehat. Kulitnya merona, tidak pucat seperti mayat hidup. Hana memiliki segalanya yang tidak Aru miliki: cinta Jevas, meski tidak dalam ikatan pernikahan. Apakah Aru marah? Tidak. Ia sudah melewati fase marah. Ia ada di fase lelah. "Kenapa aku harus marah?" Aru tersenyum, sangat tipis. "Leo keponakannya. Itu tanggung jawabnya." "Mbak memang malaikat," puji Hana lega. "Leo sekarang lagi tidur. Baru aja minum obat dan makan bubur suapan dari Mas Jevas. Mau lihat?" Aru mengangguk. Mereka berjalan pelan menuju kamar di lantai satu. Hana membuka pintu kamar itu dengan sangat hati-hati agar tidak menimbulkan suara. Kamar itu bernuansa biru langit. Di langit-langitnya tertempel stiker bintang glow in the dark. Di atas tempat tidur berbentuk mobil balap, seorang bocah laki-laki berusia enam tahun sedang tertidur pulas. Napasnya teratur, meski ada kompres penurun panas yang menempel di keningnya. Leo. Jagoan kecil keluarga Mavendra. Aru melangkah mendekat. Ia melihat wajah damai anak itu. Ada kemiripan dengan Jevas di garis rahangnya, mengingat ayah Leo adalah adik kandung Jevas, kemiripan genetik itu tak terelakkan. Di meja nakas samping tempat tidur, Aru melihat segelas air dan sebuah buku cerita yang terbuka. Judulnya: Petualangan Ayah Beruang. "Mas Jevas membacakannya sampai Leo tertidur tadi," bisik Hana dari ambang pintu, suaranya penuh kasih sayang saat menatap putranya. Aru mengulurkan tangan, menyentuh pelan selimut Leo, membetulkan letaknya sebatas d**a. Tangan Aru yang kurus dan pucat terlihat kontras dengan selimut berwarna cerah itu. Di ruangan ini, Aru merasa seperti intrusi. Seperti orang asing yang masuk ke dalam lukisan keluarga bahagia yang sudah jadi. Di lukisan itu, ada Leo, ada Hana, dan ada tempat kosong berbentuk Jevas. Tidak ada tempat untuk Aru. Tidak pernah ada. Jika Aru memaksakan diri untuk masuk ke lukisan ini, ia hanya akan menjadi noda coretan yang merusak keindahan. Aru menatap Hana yang sedang memandang Leo dengan tatapan memuja. Lalu ia menatap buku cerita yang dibaca Jevas. Lalu ia menatap bayangannya sendiri di cermin lemari Leo, wanita sakit yang sedang menunggu ajal. Tiba-tiba, semuanya menjadi masuk akal. Kenapa Jevas dingin. Kenapa Jevas tak pernah pulang tepat waktu. Kenapa Jevas tak pernah menyentuhnya. Bukan karena Jevas tidak punya hati. Tapi karena hatinya sudah penuh. Hatinya sudah tertambat di rumah sederhana ini, pada janda adiknya dan keponakannya. Jevas mungkin tidak menyadarinya, atau mungkin menyangkalnya atas nama "tanggung jawab". Tapi Aru bisa melihatnya dengan jelas. Cinta itu ada di sini. Dan cinta tidak bisa dipaksa. Sama seperti kanker yang tidak bisa ditolak. Aru mundur selangkah, menjauh dari tempat tidur Leo. Dadanya terasa ringan. Bukan karena bahagia, tapi karena ia akhirnya melepaskan beban harapan yang selama tiga tahun ini ia panggul sendirian. "Hana," panggil Aru pelan, nyaris tak terdengar. "Ya, Mbak?" Aru menatap wajah polos Leo sekali lagi, lalu beralih menatap Hana. Tatapan Aru begitu dalam, penuh arti yang tidak dimengerti oleh wanita yang lebih muda itu. "Jaga dia baik-baik," ucap Aru, suaranya serak. "Leo anak yang baik." "Pasti, Mbak." Aru mengalihkan pandangannya ke arah jendela kamar yang menampilkan taman belakang tempat ayunan tergantung. Tempat di mana Jevas dan Leo sering bermain. Aru bergumam pelan, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada Hana. Sebuah kesimpulan akhir yang menutup lembaran perjuangannya. "Leo butuh seorang ayah..." Aru memberi jeda, setetes air mata jatuh tanpa izin di pipinya yang tirus. "...dan Ayahnya butuh rumah untuk pulang." "Mbak bilang apa?" tanya Hana bingung karena suara Aru terlalu pelan. Aru tersentak, cepat-cepat menyeka pipinya dan berbalik menghadap Hana dengan senyum yang kali ini terlihat tulus… senyum perpisahan. "Tidak apa-apa," Aru menggeleng. "Aku hanya bilang, cepatlah sembuh, Jagoan." Di dalam hati, Aru melanjutkan kalimatnya yang terputus: ‘Dan untuk memberikan dia ayah yang utuh, aku harus pergi. Karena di cerita ini, akulah penghalang kebahagiaan kalian.’
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN