Kita Bicarakan tanpa Gangguan Shankara

1308 Kata
Pukul tujuh pagi di kediaman Mavendra biasanya memiliki ritme yang tidak pernah berubah. Seperti detak jam buatan Swiss, semuanya terukur presisi. Shankara Jevas Mavendra akan menuruni tangga dengan setelan kerja yang licin sempurna, aroma aftershave sandalwood menguar tipis, dan langkah kaki yang tegas. Di ruang makan, kopi hitam tanpa gula harus sudah mengepul di cangkir porselen, koran bisnis terlipat rapi di sisi meja, dan istrinya, Arunaya, duduk manis menunggunya. Namun pagi ini, ritme itu rusak. Saat Jevas menuruni tangga sambil membetulkan kancing mansetnya, yang ia pasang sendiri dengan susah payah karena tidak ada yang membantunya, ia merasakan ada yang salah. Rumah itu terlalu sunyi. Bukan sunyi yang tenang, melainkan sunyi yang melompong. Tidak ada aroma kopi yang baru diseduh. Tidak ada suara denting sendok kecil yang diaduk. Jevas melangkah masuk ke ruang makan. Alis tebalnya menukik tajam saat melihat meja makan itu. Kosong. Tidak ada kopi. Dan yang paling mencolok: tidak ada Arunaya. Kursi di sebelah kanannya, tempat Aru biasa duduk seperti boneka cantik yang setia menunggu tuannya, kini tak berpenghuni. Kursi itu terdorong rapi ke bawah meja, dingin dan tak tersentuh. "Bik Sumi!" panggil Jevas. Suaranya tidak keras, tapi tajam membelah keheningan. Seorang asisten rumah tangga paruh baya tergopoh-gopoh datang dari arah dapur, wajahnya tampak takut-takut. "Iya, Tuan?" "Di mana Nyonya?" tanya Jevas dingin. Ia menarik kursi kebesarannya dan duduk, merasa konyol karena harus bertanya keberadaan istrinya sendiri pada pembantu. "Nyonya... anu, Tuan... Nyonya Aru sudah berangkat," jawab Bik Sumi sambil meremas apronnya gugup. Gerakan tangan Jevas yang hendak mengambil ponsel terhenti. Ia melirik jam dinding. Pukul 07.05. "Berangkat?" ulang Jevas, nada skeptis terdengar jelas. "Ke mana? Salon? Belanja?" Biasanya Aru tidak pernah meninggalkan rumah sebelum Jevas berangkat kerja. Aru selalu mengantarnya sampai pintu, meski di abaikan. Wanita itu selalu berperilaku seperti istri teladan di drama televisi. "Saya kurang tahu, Tuan. Nyonya hanya bawa satu tas jinjing, pakai baju rapi tapi tertutup, terus pesan taksi online. Beliau cuma bilang mau pergi sebentar, tidak bilang ke mana." Jevas mendengus kasar. Taksi online? Istri seorang Mavendra naik taksi umum padahal ada tiga mobil mewah dan dua supir yang menganggur di garasi? "Buatkan kopi. Sekarang," perintah Jevas ketus. Bik Sumi bergegas pergi. Tinggallah Jevas sendirian di meja makan raksasa itu. Ia menatap kursi kosong Aru sekali lagi. Ada perasaan jengkel yang merambat naik di dadanya. Bukan rindu, melainkan rasa kepemilikan yang terusik. Jevas tidak suka perubahannya diganggu. Ia tidak suka pulang ke kamar yang kosong semalam, dan ia tidak suka bangun di rumah yang tanpa pelayanan pagi ini. "Kau mulai berani memberontak, Arunaya," desis Jevas sambil membuka ponselnya, memeriksa jadwal meeting. *** Dua puluh kilometer dari kediaman mewah Mavendra. Stasiun Gambir pagi itu dipenuhi hiruk-pikuk manusia. Suara pengumuman keberangkatan kereta bergema dari pengeras suara, beradu dengan suara roda koper yang ditarik di lantai keramik dan dengung percakapan ratusan orang. Arunaya duduk di salah satu bangku tunggu di area keberangkatan Eksekutif. Ia terlihat berbeda. Tidak ada gaun sutra atau sepatu hak tinggi Jimmy Choo. Aru mengenakan turtleneck krem longgar yang menutupi lehernya (menyembunyikan sisa ruam merah alergi semalam), celana bahan kulot cokelat, dan coat tipis. Rambut panjangnya digerai, sebagian tertutup topi baret berwarna senada. Wajahnya tertutup masker medis. Ia terlihat seperti wanita biasa. Rapuh, lelah, dan ingin menghilang. Di tangannya tergenggam selembar tiket kereta api tujuan Desa Teluk. Sebuah kota kecil di pesisir Jawa Tengah yang tidak populer sebagai destinasi wisata, namun memiliki arti mendalam bagi Aru. Di sanalah makam Neneknya berada. Satu-satunya orang yang pernah mencintai Aru tanpa syarat sebelum meninggal lima tahun lalu. Aru butuh tempat untuk bernapas. Sebelum ia mengajukan cerai, sebelum ia menghadapi kematiannya, ia ingin berpamitan pada Nenek. Ia ingin mengadu. "Perhatian, kereta Argo menuju stasiun akhir..." Aru menghela nafas panjang. Kepalanya masih sedikit pening sisa reaksi anafilaksis semalam, ditambah efek samping kanker yang membuat tubuhnya gampang lelah. Ia merogoh tasnya, mencari botol air minum. "Arunaya?" Gerakan tangan Aru membeku. Suara itu. Berat, sopan, dan familiar. Suara yang kemarin ia dengar di lift rumah sakit. Jantung Aru berdegup kencang. Tolong, jangan dia, batinnya memohon. Perlahan, Aru menoleh. Berdiri dua langkah darinya, sosok Abimana menjulang tinggi. Kali ini, Direktur Rumah Sakit itu tidak mengenakan setelan jas formal. Ia mengenakan kemeja linen putih santai yang lengannya digulung hingga siku, celana chino, dan sepatu loafers. Kacamata bacanya tergantung di kerah kemeja. Dia terlihat lebih muda sepuluh tahun tanpa atribut direkturnya. Sial. Kenapa dunia sesempit ini? "Dokter Abi..." sapa Aru, suaranya teredam masker. Ia tidak bisa menyangkal identitasnya karena Abimana menatapnya tepat di mata. Abimana tersenyum tipis, senyum yang ramah namun penuh selidik. "Saya pikir saya salah orang. Penampilanmu... berbeda sekali dengan kemarin." Aru membetulkan letak topinya, merasa telanjang di bawah tatapan pria itu. Abimana adalah teman Jevas. Jika Abimana tahu ia pergi keluar kota sendirian tanpa suami, Jevas pasti akan tahu. "Saya... sedang ingin suasana baru," jawab Aru kaku. Ia sengaja tidak membuka maskernya. "Bapak sedang apa di sini?" "Dinas luar kota? Atau liburan?" Abimana balik bertanya, mengabaikan pertanyaan Aru. Matanya melirik tiket di tangan Aru, tapi Aru refleks menyembunyikannya ke dalam saku coat. "Hanya... jalan-jalan sebentar," elak Aru. Ia berdiri, bersiap untuk pergi. "Maaf. Saya harus ke toilet." Itu cara paling klasik untuk kabur. Aru berharap Abimana mengerti isyarat tubuhnya yang menolak interaksi. "Naya," panggil Abimana lagi saat Aru hendak melangkah. Aru berhenti, tapi tidak menoleh. "Kau terlihat pucat, bahkan dari sorot matamu," ucap Abimana pelan, lebih serius. "Pastikan kau makan dan minum obatmu. Perjalanan kereta cukup panjang." Bahu Aru menegang. Obat? Apakah Abimana tahu? Apakah dokter kemarin melapor padanya? Tanpa menjawab, Aru mempercepat langkahnya, setengah berlari menuju gate pemeriksaan tiket yang baru saja dibuka. Ia tidak ingin mendengar apa-apa lagi. Ia hanya ingin lari. Lari dari Jevas, lari dari penyakitnya, dan lari dari tatapan orang-orang yang seolah bisa melihat sisa umur di dahinya. Aru berhasil lolos dari pemeriksaan tiket. Ia berjalan cepat menyusuri peron, mencari gerbong 1. Gerbong Luxury yang ia pesan agar bisa tidur sepanjang perjalanan tanpa gangguan. "Gerbong 1... Kursi 2A," gumam Aru mengecek tiketnya. Ia naik ke dalam kereta. Udara dingin AC menyambutnya. Gerbong itu sepi dan eksklusif, hanya berisi sedikit kursi kulit besar yang bisa direbahkan. Aru merasa lega. Di sini, ia bisa sendiri. Ia menemukan kursinya. Kursi tunggal di dekat jendela. Aru meletakkan tasnya, lalu menghempaskan tubuhnya ke kursi empuk itu. Ia menyandarkan kepala, memejamkan mata, dan menghembuskan napas panjang. "Akhirnya..." bisiknya. Ia aman. Jevas tidak tahu. Abimana sudah ia tinggalkan di ruang tunggu. Ia sendirian. Namun, ketenangan itu hanya bertahan sepuluh detik. Suara langkah kaki berhenti tepat di dekatnya. Suara tas diletakkan di rak bagasi atas terdengar, diikuti bunyi seseorang duduk di kursi di seberangnya. Aru membuka mata, sedikit kesal karena ternyata gerbong ini tidak sepi yang ia kira. Saat ia melihat ke depan, nafasnya tercekat di tenggorokan. Di sana. Duduk tepat berhadapan dengannya di kursi 2B, hanya terpisah meja kecil lipat, adalah Abimana. Pria itu sedang mengeluarkan buku tebal dari tas kulitnya. Merasakan tatapan Aru, Abimana mendongak. Untuk sesaat, waktu seolah berhenti. Suara peluit kereta yang hendak berangkat terdengar sayup-sayup di kejauhan. Abimana tampak sedikit terkejut, namun kemudian sudut bibirnya terangkat membentuk senyum geli yang tak bisa ditahan. Takdir sepertinya punya selera humor yang aneh. "Sepertinya toiletnya pindah ke gerbong ini?" sindir Abimana halus, namun matanya jenaka. Aru ternganga di balik maskernya. Ia terjebak. "Dokter... satu gerbong?" tanya Aru lemas. "Bukan cuma satu gerbong," Abimana menunjuk kursi Aru dan kursinya bergantian. "Satu tujuan. Desa Teluk, kan?" Aru mematung. Kereta mulai bergerak perlahan meninggalkan stasiun, membawa mereka berdua dalam satu kotak berjalan selama enam jam ke depan. Bersama teman suaminya. Pria yang memegang kunci rahasia kesehatannya. "Dunia ini sempit sekali," desis Aru pasrah, memalingkan wajah ke jendela yang mulai menampilkan pemandangan kota Jakarta yang bergerak mundur. "Atau mungkin," suara Abimana terdengar lebih dekat, karena pria itu condong sedikit ke depan, "memang ada hal yang harus kita bicarakan tanpa gangguan Shankara." Aru memejamkan mata erat-erat. Liburan tenangnya resmi hancur bahkan sebelum dimulai.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN