Nyala lilin di atas meja memantul di kedalaman mata cokelat Arunaya. Ia menatap uluran tangan Jevas yang berhenti di tengah meja, sebuah gestur penawaran yang terasa begitu asing, sekaligus begitu menyakitkan karena datang di saat nadi kehidupan Aru sudah nyaris berhenti berdetak. Aru tidak menyambut uluran tangan itu. Ia membiarkan tangan suaminya menggantung di udara, sebelum akhirnya Jevas menariknya kembali dengan rahang yang menegang. "Niatmu baik, Mas," Aru mulai bersuara, memecah keheningan yang sejak tadi diisi oleh alunan piano Nocturne. Suaranya mengalun sangat tenang, tanpa riak emosi, nyaris terdengar seperti embusan angin malam yang dingin. "Kau ingin memperbaiki kapal yang tak punya harapan. Kau ingin menambal lambungnya, menguras airnya, dan mendaur ulangnya menjadi sesua

