"Apa katamu?" Suara Arunaya meluncur nyaris tanpa tenaga, lebih terdengar seperti sebuah embusan napas yang tertahan di tenggorokan. Aru menatap Jevas dengan sepasang mata bulat yang memancarkan ketidakpercayaan absolut. Tawaran barusan terdengar sangat mustahil keluar dari mulut seorang Shankara Jevas Mavendra. Pria di hadapannya ini adalah kaisar beton Jakarta. Pria yang jadwal hariannya dihitung dalam hitungan menit dan bernilai miliaran rupiah. Pria yang alergi pada ketidakefisienan dan segala sesuatu yang tidak memancarkan kekuasaan. Menetap di desa? Meninggalkan singgasananya demi rumah kayu berlantai ubin tua ini? Aru menggelengkan kepalanya pelan, sebuah tawa hambar, kering, dan tak percaya lolos dari bibirnya. "Kau sedang berhalusinasi. Atau obat penenang dari rumah sakit sem

