Shankara Jevas Mavendra masih terpaku selama tiga detik penuh. Matanya, yang biasanya memindai dokumen bisnis dengan kecepatan kilat, kini bergerak lambat menelusuri wajah istrinya. Ia mencari celah. Ia mencari tanda-tanda kelelahan, kantung mata hitam, atau kulit kusam yang beberapa hari ini ia lihat sekilas di pagi buta. Namun, ia tidak menemukannya. Wanita di hadapannya ini bercahaya. Kulitnya memantulkan cahaya lampu rias seperti kaca yang dipoles sempurna. Riasan flawless itu menyembunyikan segala duka dan penyakit, menyisakan hanya kecantikan yang mengintimidasi. Dalam balutan kebaya beludru merah marun yang memeluk tubuh rampingnya, Aru terlihat bukan sebagai istri yang sedang sakit hati, melainkan sebagai trofi kemenangan yang paling berharga. Jevas mengerjap, memaksa otaknya k

