Gema suara bariton Jevas memenuhi setiap sudut Grand Ballroom yang megah. Di bawah sorotan lampu spotlight yang menyilaukan, Jevas berdiri tegak di podium akrilik bening. Ia tampak seperti seorang raja muda yang sedang berorasi di hadapan rakyatnya. Wibawanya memancar kuat, menghipnotis ratusan tamu undangan yang duduk diam menyimak setiap kata yang keluar dari bibirnya. Tangan kirinya mencengkram pinggiran podium, sementara tangan kanannya, yang tadi menggenggam erat tangan Aru, kini telah terlepas. Ia membutuhkan tangannya untuk memberi gestur penekanan pada pidatonya. Arunaya berdiri satu langkah di belakang, sedikit di sisi kiri Jevas. Posisi klasik seorang istri pejabat, ada, terlihat, namun tidak boleh menutupi sinar sang suami. "Hadirin sekalian," ulang Jevas mengalun berat, f

