Kesadaran kembali kepada Arunaya bukan layaknya fajar yang menyingsing lembut, melainkan seperti ombak pasang yang menyeret tubuh perenang yang kelelahan kembali ke daratan penuh karang tajam. Hal pertama yang menyapanya bukanlah cahaya, melainkan rasa sakit. Sebuah sensasi terbakar yang tumpul namun persisten berdenyut di kuadran kanan atas perutnya. Rasanya seolah ada batu bara panas yang ditanam paksa di dalam organ hatinya, memancarkan gelombang panas yang merambat hingga ke tulang punggung dan bahu kanannya. Aru mengerang pelan, suaranya tertahan di tenggorokan yang kering kerontang. Kelopak matanya terasa seberat timah, namun ia memaksanya terbuka. Dunia di sekelilingnya berputar pelan sebelum akhirnya fokus pada langit-langit ruangan yang berwarna putih pucat. Aroma antiseptik d

