"Profesor Hadi bilang kau sehat secara medis, tapi kenapa rasanya aku sedang memeluk kerangka kaca yang siap retak kapan saja?" Suara bariton Jevas bergetar rendah di tepat di atas ubun-ubun Arunaya. Pelukan itu tidak melonggar, justru semakin erat, mengunci tubuh kurus Aru dalam d******i yang menyesakkan namun, ironisnya… melindungi. Aru memejamkan mata, menahan napas. Di balik punggungnya, lengan kekar suaminya melingkar bagaikan akar gantung pohon beringin tua; memberikan naungan yang teduh dari terik matahari, namun di saat yang sama, akar-akar itu perlahan membelit, mencekik, dan menyerap habis cahaya matahari yang seharusnya menyentuh tanah. Nyaman, tapi mematikan. Di dalam rongga perutnya, sisa-sisa prosedur embolisasi tadi siang masih berdenyut liar. Rasa panas akibat obat kem

