"Kenapa dengan Dokter Abi?" tanya Aru tenang, terlalu tenang. "Mbak Aru kan dekat dengan dia," ujar Hana, matanya mulai berkaca-kaca penuh harap. "Mbak pasiennya. Mas Jevas juga bilang Mbak sering ngobrol sama dia. Mbak pasti tahu sifat aslinya, kan?" "Aku hanya pasien. Hubungan kami profesional," potong Aru, mencoba membangun tembok. "Tapi dia mendengarkan Mbak!" desak Hana. "Aku lihat waktu di rumah sakit. Dia mendengarkan Mbak. Dia membela Mbak di depan Ibu. Dia... dia menghormati Mbak." Air mata Hana menetes satu. "Mbak tahu kan, dia menolakku? Dia menolakku mentah-mentah, Mbak. Dia bilang tidak tertarik. Dia membuang bungaku." "Lalu apa yang kau inginkan dariku, Han?" tanya Aru pelan. Hana menghapus air matanya kasar. Ia menatap Aru dengan pandangan memohon yang menyedihkan. "

