Kecupan itu tidak berlangsung lama, namun jejak panasnya tertinggal di atas kulit pucat Arunaya, membakar seluruh saraf kewarasannya hingga ke ulu hati. Di tepi danau yang memantulkan semburat senja itu, waktu seolah berhenti berdetak. Angin sore yang semula terasa sejuk kini gagal mendinginkan suhu tubuh Aru yang mendadak melonjak. Jevas baru saja menciumnya. Bukan ciuman kasar penuh tuntutan seperti di masa lalu, melainkan sebuah kecupan ringan yang luar biasa protektif, sarat akan pemujaan yang mematikan logika. Aru mematung. Matanya yang sedari tadi menatap hamparan air kini sedikit membulat. Pertahanan es yang ia bangun dengan susah payah sejak pagi kembali retak hanya oleh sapuan bibir pria itu. Perlahan, Aru menelan ludah. Ia menarik nafas pendek, menekan gejolak aneh di dadanya.

