Angin malam berhembus semakin kencang, menyapu permukaan danau hingga menciptakan riak-riak kecil yang memantulkan cahaya perak dari bulan sabit di atas sana. Suhu udara turun drastis, namun hawa dingin itu seolah tak mampu menembus selimut cashmere dan panasnya ketegangan di antara dua manusia yang duduk di kursi kayu ulin tersebut. Pertanyaan Jevas masih menggantung di udara. Menurutmu, kita ini, jika diibaratkan filsafat, seperti apa? Arunaya tidak langsung menjawab. Ia terdiam lamat-lamat. Matanya yang segelap kopi pekat menatap lurus ke dalam manik mata suaminya. Di bawah temaram cahaya bintang, Aru mencari jejak ejekan atau sekadar jebakan dari raut wajah pria itu. Namun, yang ia temukan hanyalah sebuah atensi yang luar biasa penuh. Jevas sedang menunggunya, menantang intelektua

