Layar ponsel itu menggelap untuk yang kesekian kalinya. Di balkon apartemennya yang dingin, Abimana menghela nafas panjang. Asap tipis keluar dari bibirnya, menyatu dengan kabut dini hari Jakarta. Ia menunggu balasan, menatap ruang obrolan rahasia itu selama berjam-jam, namun malam itu ia tidak mendapatkannya. Tidak ada satu huruf pun dari Arunaya. Tiga manusia, di bawah langit malam yang sama, sibuk dirobek oleh pikiran masing-masing. Rasa yang bergelayut dalam hati menciptakan benang kusut yang mencekik kewarasan, membuat mereka terjaga entah sampai jam berapa. ** Aru berbaring menatap langit-langit hingga matanya perih dan membengkak, air matanya telah mengering menyisakan jejak garam di pelipis. Di ruang kerja yang jaraknya hanya terpisah satu lorong dari kamar Aru, Jevas duduk di

