"Jika malam ini terlalu gelap, jangan paksakan dirimu mencari lilinnya. Beritahu aku, dan aku akan membakarkan duniaku untuk menerangimu." Kalimat itu berpendar dalam keheningan kamar utama yang masih diselimuti keremangan pagi. Arunaya duduk di tepi ranjang, menatap layar ponsel rahasianya yang menampilkan deretan huruf puitis sekaligus menyayat hati tersebut. Pesan dari Abimana itu sudah menggantung di sana selama beberapa hari, tak tersentuh, tak terbalas, hanya dibaca berulang-ulang hingga Aru hafal setiap lengkung hurufnya. Ia tidak membalasnya. Bukan karena ia tidak tersentuh. Justru sebaliknya, pesan itu terlalu terang, terlalu panas, dan terlalu tulus bagi Aru yang sedang membeku dalam kegelapan. Ia merasa tidak pantas menerima seseorang yang rela membakar dunianya sendiri hany

