Tanganmu, Dingin Sekali

1492 Kata
Rumah sakit selalu memiliki bau yang khas. Campuran aroma antiseptik yang tajam, sisa parfum mahal dari pengunjung kelas VIP, dan aroma samar dari ketakutan manusia. Arunaya duduk di ruang tunggu Poli Onkologi Terpadu. Kursi tunggu ini empuk, dilapisi kulit sintetis berkualitas tinggi, namun bagi Aru, rasanya seperti duduk di atas paku. Di sekelilingnya, pemandangan ironis tersaji. Seorang wanita paruh baya duduk di kursi roda, tangannya digenggam erat oleh suaminya yang membisikkan doa. Di sudut lain, sepasang suami istri muda saling berpelukan, si istri menangis di bahu suaminya setelah keluar dari ruang konsultasi. Semua orang memiliki tangan untuk digenggam. Semua orang memiliki bahu untuk bersandar. Arunaya menunduk, menatap kedua tangannya sendiri yang saling meremas di atas pangkuan. Cincin pernikahan bertahta berlian di jari manisnya berkilau tertimpa lampu neon, terlihat terlalu besar untuk jari-jarinya yang kini semakin kurus. "Nyonya Mavendra?" Suara perawat memecah lamunannya. Aru mendongak, menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan sisa kepingan keberaniannya. Ia berdiri, merapikan sedikit kerutan di gaunnya, lalu melangkah masuk. Sendirian. Di dalam ruangan bernuansa putih dan abu-abu itu, Dokter Raka, spesialis onkologi senior, sudah menunggu. Pria berkacamata itu memegang lembaran hasil MRI dan biopsi dengan ekspresi yang sudah sangat Aru kenal: Ekspresi 'aku punya kabar buruk'. Aru duduk tanpa diminta. "Katakan saja, Dok. Jangan ditutup-tutupi." Dokter Raka melepaskan kacamata, meletakkannya di atas meja, lalu menatap Aru lekat-lekat. Ada jeda panjang yang menyiksa sebelum dia bicara. "Hasil biopsi mengkonfirmasi kecurigaan kita, Bu Aru. Hepatocellular Carcinoma. Kanker hati primer." Dunia hening sejenak. Aru mendengar suara detak jam dinding di belakang dokter. "Stadium?" tanya Aru. Suaranya datar, seolah sedang menanyakan harga sayuran di pasar. "Stadium dua," jawab Dokter Raka hati-hati. Ia menggeser sebuah diagram ke hadapan Aru. "Tumornya sudah berukuran lima sentimeter, dan ada invasi ke pembuluh darah di sekitarnya. Ini... cukup agresif, mengingat perkembangan dari cek terakhir enam bulan lalu." Aru menatap gambar hati di kertas itu. Ada noda hitam di sana. Noda yang akan memakan hidupnya. Anehnya, ia tidak merasa takut. Justru, ada perasaan aneh yang merambat di dadanya, rasa dingin yang menenangkan. "Apa yang harus dilakukan?" "Operasi reseksi adalah opsi utama, dilanjutkan dengan kemoterapi atau TACE," jelas Dokter Raka dengan nada mendesak. "Peluang kesembuhannya masih ada. Tapi kita harus bergerak cepat. Saya butuh persetujuan tindakan segera." Dokter Raka berhenti sejenak, matanya menyapu ruangan, mencari sosok lain yang seharusnya ada di sana. "Di mana Pak Shankara?" tanyanya pelan. "Untuk prosedur sebesar ini, dan mengingat kondisi mental pasien, kehadiran suami sangat krusial. Saya perlu menjelaskan risiko operasi padanya." Nama itu disebut. Shankara. Aru tersenyum tipis. Senyum yang tidak mencapai matanya. "Suami saya sibuk, Dok. Dia... sedang mengurus hal yang lebih mendesak." Ya, mengurus demam keponakannya, batin Aru menambahkan dengan getir. Wajah Dokter Raka berubah. Tatapan profesionalnya melunak, digantikan oleh sesuatu yang paling dibenci Aru: Rasa iba. Dokter itu menatap Aru seolah ia adalah anak kucing yang kehujanan dan dibuang di pinggir jalan. Tatapan kasihan itu menusuk harga diri Aru lebih dalam daripada jarum infus manapun. Aru adalah Nyonya Mavendra. Ia tidak butuh dikasihani. "Bu Arunaya," Dokter Raka memajukan tubuhnya, nada suaranya berubah menjadi bujukan lembut. "Kanker bukan hanya perang fisik, tapi juga mental. Dukungan keluarga adalah obat paling manjur. Ibu tidak bisa menghadapi ini sendirian." "Saya bisa," potong Aru cepat. Dingin. Tegas. "Tapi—" "Dokter bilang ini stadium dua," sela Aru lagi, matanya menatap lurus ke manik mata dokter itu. "Jika saya melakukan operasi dan kemo, berapa persen peluang saya sembuh total?" "Sekitar 60 sampai 70 persen, jika respons tubuh bagus." "Dan jika saya tidak melakukan apa-apa?" Ruangan itu membeku. Dokter Raka ternganga sedikit. "Bu, kita tidak sedang membicarakan itu. Usia Ibu masih muda. Menyerah bukan opsi." "Jawab saja, Dok. Berapa lama?" desak Aru. Dokter Raka menghela napas panjang, tampak frustrasi. "Tanpa pengobatan... dengan agresivitas sel tumor ini... mungkin enam bulan. Paling lama satu tahun. Tapi bulan-bulan terakhir akan sangat menyakitkan." Enam bulan. Angka itu berdengung di telinga Aru. Enam bulan lagi untuk merasakan sakit karena diabaikan. Enam bulan lagi untuk melihat punggung Jevas menjauh. Enam bulan lagi menjadi hantu di rumahnya sendiri. Atau... enam bulan untuk membebaskan diri. Aru mengambil amplop coklat berisi hasil medisnya dari atas meja. Ia tidak menangis. Air matanya sudah kering di meja makan semalam. Hatinya yang dulu hangat dan penuh harap, kini membeku sepenuhnya. Vonis ini bukan hukuman mati baginya. Ini adalah garis finish. "Terima kasih, Dok. Saya akan pikirkan jadwal operasinya," bohong Aru seraya berdiri. "Tolong bawa Pak Shankara kemari besok," seru Dokter Raka saat Aru berbalik menuju pintu. "Saya mohon." Aru tidak menjawab. Ia keluar dari ruangan itu, meninggalkan dokter yang menatap punggungnya dengan nanar. Lorong rumah sakit terasa sangat panjang saat Aru berjalan menuju lift. Langkah kakinya bergema di lantai vinil yang mengkilap. Dunia di sekelilingnya terasa kabur. Orang-orang yang berlalu-lalang, perawat yang membawa nampan obat, pengunjung yang membawa keranjang buah, semuanya tampak seperti background film yang buram. Fokus Aru hanya pada satu titik: pintu keluar. Ia ingin pulang. Meski rumah itu bukan lagi tempat yang hangat, setidaknya di sana ia bisa bersembunyi di balik selimut. Aru menekan tombol lift khusus VIP/Eksekutif agar tidak perlu berdesakan dengan orang banyak. Ia menyandarkan keningnya yang berkeringat dingin ke pintu besi lift yang dingin, memejamkan mata sejenak untuk menahan pening. Ting. Pintu lift terbuka. Aru menegakkan tubuh, memasang kembali topeng wajah datarnya, dan melangkah masuk. Namun, lift itu tidak kosong. Ada seorang pria di sana. Berdiri tegap dengan setelan jas abu-abu charcoal yang rapi. Usianya sekitar awal 40-an, dengan garis wajah matang yang berwibawa dan kacamata berbingkai tipis. Ia sedang memeriksa jam tangannya saat Aru masuk. Aru mengenali pria itu. Abimana. Direktur Utama rumah sakit ini, sekaligus salah satu rekan bisnis senior dan teman lama Jevas. Pria yang beberapa kali hadir di pesta perusahaan Mavendra. Langkah Aru terhenti sesaat. Ia ingin mundur, tapi pintu lift sudah tertutup otomatis di belakangnya, mengurung mereka berdua dalam kotak besi yang meluncur turun. Abimana menoleh. Alisnya terangkat sedikit di balik lensa kacamatanya, jelas terkejut melihat siapa yang masuk. "Arunaya?" sapa Abimana. Suaranya berat dan sopan, dengan nada keramahtamahan yang tulus. Aru mengangguk kaku, mencengkeram tas tangannya lebih erat untuk menutupi getaran tangannya. "Selamat siang, Dokter." Mata Abimana yang tajam menyapu penampilan Aru. Dari wajahnya yang pucat pasi meski tertutup riasan, tubuhnya yang terlihat rapuh di balik gaun, hingga amplop coklat berlogo "Onkologi" yang Aru dekap di d**a. Sebagai Direktur Rumah Sakit, Abimana tahu persis amplop apa itu. Dan dia tahu persis lantai berapa yang baru saja Aru tinggalkan. Lantai 5. Khusus kanker dan penyakit dalam kronis. "Sedang menjenguk kerabat?" tanya Abimana basa-basi, meski matanya menyiratkan kecurigaan. "Ah... iya. Ada kenalan jauh yang dirawat," jawab Aru cepat. Terlalu cepat. Abimana mengangguk pelan, tidak mendesak. Namun, ia melihat sekeliling lift yang kosong. "Shankara tidak menemani?" Pertanyaan itu lagi. Di mana Shankara? Di mana Jevas? Aru merasa mual mendengar nama suaminya terus ditanyakan. "Dia sedang... ada meeting penting. Saya yang memintanya untuk tidak datang karena ini hanya kunjungan singkat." "Begitu," gumam Abimana. Lift terasa bergerak sangat lambat menuju lantai dasar. Keheningan menyelimuti mereka. Tapi ini bukan keheningan kosong. Ini adalah keheningan yang penuh dengan observasi. Aru bisa merasakan tatapan Abimana sesekali meliriknya lewat pantulan cermin dinding lift. Pria itu menatapnya bukan dengan tatapan meremehkan seperti Jevas, bukan juga tatapan iba berlebihan seperti Dokter Raka. Itu tatapan menganalisa. Tatapan seseorang yang tahu ada sesuatu yang sangat salah. Tiba-tiba, lift berguncang sedikit saat berhenti di lantai 3. Aru yang sedang tidak seimbang karena pening, terhuyung ke samping. "Hati-hati!" Dengan refleks cepat, Abimana menahan siku Aru agar tidak jatuh. Tangannya kokoh dan hangat, kontras dengan kulit Aru yang sedingin es. "Kamu sakit?" tanya Abimana, kali ini nada formalnya sedikit luntur. Ia bisa merasakan betapa kurusnya lengan Aru di balik kain bajunya. "Tanganmu dingin sekali." Aru segera menarik tangannya, menjauhkan diri dan berdiri tegak kembali. Jantungnya berpacu. Ia tidak boleh terlihat lemah di depan teman Jevas. Berita akan sampai ke telinga suaminya, dan Jevas akan menganggapnya mencari perhatian. "Saya baik-baik saja. Hanya sedikit pusing karena belum sarapan," elak Aru sopan namun tegas, membuat jarak di antara mereka. Abimana menatapnya lekat, tangannya yang tadi menahan Aru kini perlahan turun ke sisi tubuhnya. Ia tidak yakin. Ia melihat keringat dingin di pelipis wanita itu. Ia melihat amplop itu. Ting. Pintu lift terbuka di lantai dasar lobi utama. "Terima kasih," ucap Aru cepat, lalu bergegas melangkah keluar tanpa menoleh lagi, seolah melarikan diri dari interogasi tak terucap. Abimana tidak langsung keluar. Ia menahan pintu lift dengan tangannya, menatap punggung istri sahabatnya yang berjalan tertatih menjauh di tengah keramaian lobi. Punggung yang terlihat sangat sepi dan memikul beban yang terlalu berat. Abimana merogoh saku jasnya, mengeluarkan ponselnya. Ia menatap nama "Shankara Jevas" di daftar kontak. Jarinya melayang di atas tombol panggil. Ada dorongan untuk bertanya pada Jevas: 'Kau tahu istrimu ada di poli kanker sendirian?' Namun, Abimana mengurungkan niatnya. Ia mematikan layar ponselnya kembali, membiarkan lift tertutup perlahan, menyembunyikan wajahnya yang kini dipenuhi tanda tanya besar. Di lobi, Aru terus berjalan menembus kerumunan, tidak menyadari bahwa satu rahasianya kini sudah tergantung pada seutas benang tipis di tangan orang lain.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN