Mangkuk bubur ayam dari kantin VIP itu kini tandas. Hanya menyisakan sendok perak yang tergeletak miring dan sisa kuah di dasarnya. Untuk pertama kalinya dalam beberapa hari terakhir, perut Arunaya menerima asupan makanan tanpa perlawanan berarti. Tidak ada rasa mual yang mencekik, tidak ada penolakan dari lambungnya yang sensitif. Mungkin karena bubur itu hangat dan lembut, atau mungkin karena ia memakannya di tempat yang memberinya rasa aman, jauh dari aroma sandalwood Jevas dan tatapan menilai Ratna. Abimana duduk di tepi meja kerjanya, lengan kemejanya yang tergulung menampakkan otot lengan yang rileks. Ia memperhatikan Aru yang sedang menyeka bibir dengan tisu. Wanita itu terlihat sedikit lebih hidup. Rona pucat pasi di wajahnya mulai samar, digantikan oleh sedikit warna kehidupan

