Untuk menjadi Tokoh Utama

1609 Kata

Cahaya matahari siang yang menembus jendela kaca ruangan direktur utama itu mulai condong ke barat, menciptakan bayangan panjang di atas meja kerja yang memisahkan dua manusia yang terikat oleh rahasia medis. Arunaya masih duduk diam, matanya sembab sisa menangis, namun nafasnya lebih teratur. Pengakuan tentang kalung bekas itu seolah menguras nanah emosi yang selama ini mendekam di hatinya. Ia merasa kosong, tapi kekosongan itu terasa lebih ringan daripada beban kepura-puraan. Abimana Trisatya menatapnya. Ia tidak memberikan tisu lagi. Ia tidak memberikan kata-kata manis yang meninabobo seperti "Sabar ya" atau "Pasti ada hikmahnya". Abimana tahu, Aru tidak butuh dikasihani. Wanita di hadapannya ini butuh disadarkan dengan tamparan realita yang logis. Abimana menegakkan punggungnya, mel

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN