Istrimu tidak akan Mati tanpa Kau…

2554 Kata

"Maafkan aku." Bisikan itu meluncur dari bibir Arunaya, sangat pelan, nyaris tak mampu mengalahkan suara detak jam dinding di sudut ruangan. Aru berbaring telentang di atas ranjang berukuran ekstra besar itu. Matanya terbuka lebar, menatap kosong pada langit-langit kamar yang dihiasi ukiran gypsum klasik. Kamar utama kediaman Mavendra itu kini hanya diterangi oleh pendar cahaya kekuningan dari lampu tidur di atas nakas, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang merayap di dinding seperti hantu masa lalu. Syukurnya, Jevas tidak tidur di kamar ini. Setelah membentaknya dengan emosi yang meledak-ledak, meneriakkan penolakan absolut atas konsep kematian yang Aru lontarkan, pria itu membanting pintu dan pergi. Kemungkinan besar Jevas mengurung diri di ruang kerjanya, menenggelamkan rasa fr

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN