Helai demi helai. Aru menarik sisa-sisa rambut berwarna kecokelatan yang tersangkut di sela-sela gigi sisirnya. Jumlahnya semakin banyak hari ini. Ia menggulung helaian rapuh itu menjadi gumpalan kecil, menyembunyikannya di telapak tangan agar tidak terlihat. Ia menatap pantulan dirinya di cermin meja rias, memastikan tidak ada kebotakan yang terlalu kentara di kulit kepalanya. Suara kenop pintu yang diputar memecah keheningan kamar utama. Jevas melangkah masuk. Pria itu tampak kelelahan, auranya gelap dan kaku. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun sebagai sapaan, Jevas berjalan melewati punggung Aru dan menjatuhkan tubuhnya di tepi kasur. Aru tidak menoleh. Ia sama sekali tidak melihat suaminya dari pantulan cermin. Perhatiannya seolah sepenuhnya tersita pada laci meja rias, tempat ia d

