Di lantai tertinggi Mavendra Tower, gemerlap kota Jakarta di siang hari tampak seperti miniatur mainan di bawah kaki Shankara Jevas Mavendra. Ruang kerja sang CEO teramat hening, didominasi oleh perabotan kayu eboni dan kaca antipeluru. Namun, keheningan itu sejak dua jam yang lalu terus diinterupsi oleh bunyi ping halus dari ponsel pribadi Jevas yang tergeletak di atas meja. Setiap bunyi itu mewakili sebuah notifikasi dari bank internasionalnya. Bukan puluhan juta. Bukan ratusan juta. Angka yang masuk sebagai notifikasi penarikan itu menyentuh miliaran rupiah dalam interval waktu yang sangat singkat. Pintu ganda ruang kerja itu diketuk dua kali sebelum bergeser terbuka. Sekretaris pribadi Jevas, Ruri, melangkah masuk dengan langkah cepat yang sedikit tertahan. Pria berusia tiga puluha

