"Namanya Kejora," jawab wanita itu, tersenyum hangat sambil membetulkan letak kardigan rajut yang melorot di bahu kecil putrinya. "Tapi kami biasa memanggilnya Jora." Aru mengulang nama itu dalam hati. Kejora. Bintang yang paling terang. Sangat cocok dengan sepasang mata gelap yang memancarkan kehidupan tanpa batas itu. Aru menyerahkan bola karet itu ke tangan Jora. Batita itu menerimanya dengan pekikan riang, memeluk bola itu seolah itu adalah harta karun paling berharga di dunia, lalu tertawa memperlihatkan giginya yang masih belum lengkap. Tawa itu begitu murni, begitu ringan, seolah gravitasi bumi tidak memiliki kuasa atas dirinya. "Terima kasih," ucap ibu Jora lagi. Ia mengulurkan tangan. "Saya Nisa." "Aru," balas Aru, menyambut uluran tangan itu. Tangan Nisa terasa hangat dan kap

