Kau Berniat jadi Aktor, Hah?

1852 Kata

Begitu sampai di kamar tamu, yang kini ia klaim sebagai kamar pribadinya, Aru langsung membersihkan diri. Ia mandi air hangat, membiarkan aliran air membasuh sisa-sisa kepenatan pesta dan jejak air mata di rooftop tadi sore. Setelah tubuhnya bersih dan wangi sabun bayi, Aru mengenakan piyama sutra favoritnya. Piyama berwarna dusty pink yang longgar dan sangat nyaman. Ia memakai ini karena kulitnya yang sensitif butuh kelembutan. Aru duduk di meja kerja kecil di sudut kamar. Ia menyalakan lampu belajar, lalu mengeluarkan sebuah buku agenda bersampul kulit tebal yang baru ia beli di toserba tadi. Ia membuka halaman pertama. Kertas putih bersih itu menatapnya, menunggu untuk diisi. Aru mengambil pena. Tangan kanannya sempat gemetar sedikit, efek samping tremor halus akibat kondisi hatinya

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN