Tidak, Mas! Ku bilang, Tidak!

1451 Kata

Langkah kaki Arunaya yang gontai terhenti seketika, tepat di tengah ruang tamu luas yang memisahkan. Suara bariton itu memecah keheningan, bergema memantul di dinding-dinding tinggi yang sepi, menahan langkahnya lebih efektif daripada rantai besi. "Masih berulah?" Dua kata. Singkat, padat, dan penuh tuduhan. Aru memejamkan matanya sejenak. Kesadarannya masih cukup tajam untuk mengenali nada bicara itu. Itu bukan nada bertanya. Itu nada menantang. Perlahan, Aru memutar tumitnya. Tubuhnya yang terbalut pakaian serba hitam berbalik menghadap sumber suara. Di sana. Berdiri di ujung anak tangga pertama yang melengkung megah. Shankara Jevas Mavendra. Pria itu berdiri dengan postur angkuh, satu tangan dimasukkan ke saku celana bahan mahalnya, sementara tangan lainnya memegang segelas red w

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN