Rasanya Hambar, kan?

1737 Kata

Aroma cat minyak dan terpentin yang tajam di ruang kaca itu mendadak terasa menyesakkan, seolah oksigen tersedot habis oleh ketegangan yang meledak di antara sepasang suami istri itu. Arunaya baru saja hendak berbalik, memeluk buku agendanya erat-erat di d**a, berniat meninggalkan ruangan itu karena percakapan ini tidak lagi produktif. Baginya, meladeni Jevas saat ini sama seperti berbicara dengan tembok beton… keras dan tidak mau mendengar. Namun, Jevas tidak membiarkannya pergi semudah itu. Ego laki-lakinya yang tercabik-cabik oleh sikap dingin Aru menuntut penyelesaian. Ia butuh reaksi. Ia butuh ledakan emosi. Ia butuh bukti bahwa istrinya masih "ada" di sana, bukan sekadar cangkang kosong yang berjalan dan bernapas. Tangan kekar Jevas terulur cepat. Jari-jarinya mencengkram pergelan

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN