Lampu fluorescent putih yang memanjang di langit-langit ruang konsultasi Poli Onkologi itu berdengung halus, suara frekuensi rendah yang biasanya tidak terdengar, namun bagi Arunaya, suara itu terdengar sekeras teriakan. Ruangan itu dingin. Aroma khas rumah sakit, campuran alkohol, desinfektan, dan ketakutan manusia, menguar samar dari dinding-dinding yang dicat warna broken white. Di atas meja kerja yang berantakan oleh tumpukan berkas rekam medis, sebuah model anatomi organ hati manusia tergeletak miring, menampilkan bagian yang berbenjol-benjol mengerikan sebagai simulasi sirosis dan kanker. Aru duduk di kursi pasien. Punggungnya tegak, kakinya disilangkan dengan anggun di pergelangan kaki. Tangan kirinya memegang tas tangan, sementara tangan kanannya bermain-main dengan ujung kemeja

