Suami mu yang Bodoh Itu

1538 Kata

Angin malam di ketinggian lantai empat puluh lima itu berhembus liar, tidak sopan, dan menusuk tulang. Namun bagi Arunaya, angin itu adalah belaian yang ia butuhkan. Ia berdiri di tepi rooftop hotel, kedua tangannya mencengkeram pagar pembatas besi yang dingin. Di bawah sana, Jakarta terhampar seperti hamparan permata yang berserakan di atas beludru hitam. Lampu-lampu kendaraan membentuk sungai cahaya yang mengalir tanpa henti, sementara gedung-gedung pencakar langit berdiri angkuh sebagai saksi bisu ambisi manusia. Suara musik orkestra dan riuh tepuk tangan dari Grand Ballroom di lantai bawah sudah tidak terdengar lagi. Di sini, di tempat yang lebih dekat dengan langit, hanya ada suara deru angin dan napasnya sendiri yang terdengar berat. Aru memejamkan mata. Ia menikmati sensasi di

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN