Jin Iseng dan Pahala yang belepotan

1578 Kata

​Malam di pinggiran hutan jati Desa Ghadita itu terasa sangat hening, seolah-olah alam sedang menahan napasnya. Revan berjalan dengan langkah yang kaku, tangannya yang memegang senter plastik murahan terus gemetar. Cahaya dari senter itu pun mulai meredup, berkedip-kedip seakan sedang sekarat ditelan kegelapan. Ia baru saja berpisah dengan Pak Sobri di persimpangan jalan setapak, dan kini kesunyian itu mulai terasa mencekik lehernya. ​"A-Ayu... Kamu di mana sih?" bisik Revan lirih. Suaranya hampir tenggelam oleh suara gesekan daun kering yang tertiup angin. "Jangan bercanda, Yu. Ini tidak lucu kalau kamu meninggalkanku sendirian di tempat seperti ini." ​Revan menyeka keringat dingin di dahinya. Pikirannya masih kacau. Di satu sisi ia mengkhawatirkan Dika yang hilang misterius, namun di s

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN