Malam di Desa Ghadita terasa begitu menindas, seolah udara pun enggan untuk bergerak. Revan duduk termenung di kursi kayu teras rumah panggungnya, membiarkan kegelapan malam menyelimuti tubuhnya yang terasa lemas dan penat. Pikirannya tidak bisa tenang; memorinya terus berputar pada kejadian sensual di rumah Mbak Wulan sore tadi. Ia masih bisa merasakan kehangatan kulit janda kembang itu, cara Wulan mengerang pasrah saat mereka menyatu dalam gairah, dan bagaimana l**************n Wulan menjepit miliknya dengan begitu erat hingga ia mencapai puncak. Namun, di balik sisa-sisa kenikmatan itu, ada ketakutan yang besar karena Ayu belum juga menampakkan diri sejak ia menginjakkan kaki di rumah. Dari arah dapur, sayup-sayup terdengar suara Cici dan Vita. Mereka sedang menikmati burger yang dibaw

