Titah Sang Ayu dan Lutut Gemetar

1700 Kata

Kabut ungu kemerahan yang sempat membelah dimensi di ruang tamu itu perlahan menyusut, terhisap kembali ke dalam pori-pori kulit Ayu yang seputih pualam. Hamparan rumput hijau Kerajaan Jin lenyap bak embun tertimpa terik, berganti kembali dengan pemandangan ruang tamu rumah panggung yang reyot, berdebu, dan pengap. Bau kemenyan yang tadi menusuk hidung perlahan kalah oleh aroma kayu lapuk dan bau amis sisa pergulatan semalam yang masih tertinggal kuat di sudut ruangan. ​Mbah Sutrisno tersungkur di atas lantai kayu yang berderit. Tubuhnya gemetar hebat, keringat dingin mengucur deras dari pelipisnya hingga membasahi baju batik kusamnya yang sudah compang-camping. Di hadapannya, Dika masih mematung dengan mulut terbuka, sepotong singkong rebus masih bertengger statis di antara giginya. Cici

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN