Kerajaan Astina Pura Ghaib

1741 Kata

Cahaya matahari yang menyelinap dari celah dinding kayu rumah panggung itu terasa begitu tajam, seolah-olah ribuan jarum cahaya sedang menusuk-nusuk hati nurani Revan. Ia masih berdiri mematung di tengah ruang tamu, napasnya belum teratur benar. Di saku celananya, ponselnya terasa panas, sisa dari pesan yang ia kirimkan pada Andi pagi tadi—sebuah pesan penuh keputusasaan yang kini terasa sia-sia. Revan melirik ke arah pintu kamarnya yang sedikit terbuka, di mana sprei yang berantakan dan aroma tubuh Cici serta Vita masih menguar kuat, bercampur dengan bau kayu lembap dan sisa dupa yang entah kapan ia bakar. ​Revan hendak menghempaskan pantatnya ke kursi kayu yang reyot, namun sebuah sentakan energi membuat bulu kuduknya berdiri tegak. Udara di sekitarnya mendadak menjadi statis, seolah ok

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN