Suasana di depan pintu kamar mendadak tegang. Revan dan Vita saling melempar pandang dengan napas yang masih tersenggal. Di balik pintu, Cici masih menunggu dengan rasa penasaran yang mulai membuncah. Aduh, bagaimana ini? Cici pasti curiga, ucap Revan dalam hati sambil buru-buru menyambar tumpukan kemeja baru yang tadi ia beli, lalu menumpuknya di lengan seolah-olah ia memang sedang sibuk merapikan pakaian. Vita, meski bagian bawahnya masih terasa perih dan basah, entah kenapa merasa jauh lebih rileks. Beban rasa penasarannya selama ini sudah tuntas. Ia merapikan rambutnya yang agak berantakan dan menarik napas panjang untuk menenangkan detak jantungnya yang perlahan mulai stabil. Cklek. Revan membuka pintu dengan wajah yang diatur sealami mungkin. "Iya, Ci... maaf. Ini tadi lagi repot

