Di dalam kamar yang temaram itu, udara terasa semakin sesak oleh aroma gairah yang memuncak. Revan menarik napas panjang, mencoba menenangkan debar jantungnya yang berdegup kencang bak genderang perang. Dengan tangan yang sedikit gemetar, Revan membimbing tubuh polos adiknya menuju ranjang. "Rebahan di sini, Vita," ucap Revan dengan suara serak yang hampir pecah. Vita menurut dengan patuh. Ia merebahkan tubuh mulusnya di atas kasur tipis itu, lalu perlahan membuka kedua paha jenjangnya lebar-lebar, membiarkan gerbang surganya yang masih ranum dan perawan terpampang nyata di depan mata kakaknya. "Masukin sekarang, Kak... pelan-pelan saja," ucap Vita sambil menatap langit-langit kamar, napasnya memburu tidak beraturan. Revan berlutut di antara kedua kaki Vita, matanya tidak berkedip mena

