"Aku hamil." Hening. Kata-kata itu menggema di ruangan yang sunyi, seolah menghentikan waktu sesaat. Elenio terdiam. Matanya masih membelalak, seolah tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. "Kau ... kau hamil?" ulangnya, hampir berbisik. Alara mengangguk perlahan, dan air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya jatuh membasahi pipinya. Kehamilan tampaknya membuatnya sangat sensitif dan tak pernah bisa menahan emosinya. "Aku tahu kita berencana menunda memiliki anak ... Aku tahu aku seharusnya menyelesaikan kuliah dulu. Tapi ... ini terjadi begitu saja. Aku ... aku bahkan tak tahu bagaimana caranya memberitahumu karena aku juga merasa bimbang." Elenio terdiam selama beberapa detik sebelum akhirnya menarik Alara ke dalam pelukannya dengan erat. "Baby ... As

