Selama masa kehamilan Alara, Elenio benar-benar menunjukkan sisi terbaiknya sebagai suami dan calon ayah. Ia tak hanya menjadi pasangan yang penuh kasih sayang, tetapi juga menjadi sahabat, pendengar yang baik, sekaligus perawat yang sabar. Ada kalanya Alara menangis tanpa alasan yang jelas. Seperti malam itu, ketika mereka duduk di sofa ruang tamu, menonton film komedi yang biasanya membuat Alara tertawa terpingkal. Namun entah mengapa, Alara justru terisak pelan. Elenio yang mendengar suara tangisan itu segera meraih remote dan mematikan film. “Baby, kau kenapa? Sakit? Atau ada yang mengganggu?” Alara menggeleng pelan, air matanya terus mengalir. “Aku ... aku tidak tahu. Aku hanya ... merasa sedih. Selama ini, hubunganku dan orang tuaku sedikit merenggang, itu membuatku mera

