“Kalau saya iyain ajakan kamu buat kencan, apa setelahnya kamu bakalan berhenti ganggu saya?”
Mendengar pertanyaan itu, Dinda langsung cemberut. Berhenti ganggu? Memangnya selama ini dia menganggu? Padahal Dinda tak merasa menganggu Rayyan, kenapa pria itu berbicara seolah-olah diganggu hantu?
“Kenapa kamu diam?”
Alih-alih langsung menjawab, Dinda memilih duduk di samping Rayyan. Bibir gadis itu masih cemberut, membuat Rayyan menyeritkan kening. Dia jadi berfikir, apa ada yang salah sama pertanyaannya tadi? baru Rayyan ingin bertanya lagi, Dinda sudah memberi kode agar dirinya diam. Alhasil Rayyan manut, menutup kembali mulutnya.
“Segitu mirip hantunya kah saya di mata Bapak?”
Kerutan di kening Rayyan semakin menumpuk. “Maksud kamu gimana, Dinda? Saya tanya apa, kamu jawabnya apa.”
Dinda menghela napas, menatap lekat Rayyan. Lalu dia menjawab, “ya itu tadi. emang kapan saya ganggu Bapak sampai Bapak kasih opsi kaya tadi?”
Kali ini gantian Rayyan yang menghela napas. Ternyata itu maksudnya. Astaga, apa Dinda tidak sadar diri? Tidak sadar kalau selama ini tingkah lakunya memang cukup menganggu. Selain itu nama Rayyan juga menjadi obrolan hangan dilingkaran dosen. Beberapa dari mereka, sudah mengetahui kalau Dinda seterang-terangan itu menyukai dirinya.
“Adinda, dengar saya. Kelakuan kamu ini cukup buat satu kampus menatap kita berdua. Mungkin kalau pria yang kamu kejar-kejar bukan saya, itu ngga jadi masalah. Justru terlihat wajar. Saya ngga mau publik berasumsi yang engga-engga soal kita,” ujar Rayyan dengan penuh kelembutan. Dia sadar, menghadapi Dinda tidak bisa dengan cara keras.
Apakah ini maksudnya ditolak? Kedua mata Dinda berkaca-kaca menatap Rayyan. “Bapak lebih pentingin pandangan orang daripada perasaan saya, ya? Saya itu mau berjuang, mau mencoba. Walaupun kalau kata sahabat saya semua akan sia-sia. Tapi saya tetap mau maju. Bahkan saya siap bersaing sama wanita yang ada di samping Bapak sekarang.”
Sungguh jawaban yang di luar dugaan. Rayyan mendengus, dia memilih melanjutkan makannya daripada mengikuti drama yang Dinda buat. Sepertinya nasi ayam bakar miliknya jauh lebih menggoda daripada pembahasan tak berarah ini. Melihat Rayyan asik dengan makanannya, Dinda merebahkan kepalanya di atas meja. Tatapannya masih tertuju pada Rayyan yang sedang makan.
“Lebih baik kamu kembali ke meja teman-temanmu, Din.”
“Ngga mau, saya mau di sini sama Bapak. Saya belum jawab pertanyaan Bapak loh ngomong-ngomong. Jadi kapan kita mau kencan?”
“Nanti malam.”
Kedua mata Dinda membulat mendengar jawaban Rayyan. Nanti malam? Nanti malam banget? Ini sungguh telinganya tidak salah mendengar? Rayyan benar-benar mau kencan dengannya? Tubuh Dinda kembali menegak, senyumnya merekah, matanya berbinar. Pada akhirnya usaha yang dia lakukan selama berbulan-bulan terwujud juga nanti malam.
“Oke, saya siap nanti malam. Tapi walaupun saya terima kencan malam nanti, saya ngga mau berhenti deketin Bapak.”
“Lalu gunanya saya iyakan ajakan kamu apa kalau ngga ada imbalannya?”
“Pilih imbalan apapun, akan saya turutin selain itu.”
Rayyan diam, otaknya berfikir. Sejujurnya tidak ada opsi lain. Yang Rayyan inginkan hanya Dinda berhenti mengejarnya seperti anjing. Sambil berfikir Rayyan menyelesaikan makannya sampai habis. Walaupun otaknya bingung, dia tetap berfikir, membiarkan Dinda menunggu.
“Gimana? Bapak mau apa dari saya?” tanya Dinda, menoel lengan kekar Rayyan.
“Kalau gitu kita ngga jadi kencan. Saya ngga punya opsi lain selain yang itu.” Setelah mengatakan itu Rayyan berdiri, meninggalkan Dinda yang gelagapan.
Dinda ikut berdiri, namun dia kalah cepat untuk meraih lengan Rayyan. “Loh, Pak, ngga bisa begitu dong! Nanti malam harus jadi, harus. Bapak nih jangan jatuhin saya kayak gini dong!”
Tidak perduli, Rayyan mengangkat tangannya tanpa membalikkan tubuh dan menghentikan jalannya. Punggung Rayyan semakin menjauh, lalu hilang dari pandangan Dinda. Dinda berdecak kesal. Sial, hatinya benar-benar dipermainkan oleh pria itu. Baru saja diterbangkan, lalu dibanting kembali.
“Ngeselin!” Dinda menghentakkan kedua kakinya ke lantai.
***
Sekitar jam lima sore kelas terakhir Dinda baru selesai. Pelajaran yang sungguh membuat kepala gadis itu pusing dan mual akhirnya selesai. Sejenak Dinda meregangkan kedua tangannya, lalu tak lama dia merebahkan kepala di atas meja dengan alas kedua tangannya. Dinda lelah, teramat lelah. Ingin rasanya dia segera pulang, merangkak naik ke atas kasur yang empuk.
“Din, gue sama Aika duluan ya. Lo bawa mobil atau dijemput?” tanya Gisel, menggoyak-goyakkan lengan Dinda.
“Bawa mobil,” jawab Dinda singkat. Matanya masih terpejam, sungguh berat untuk terbuka.
“Gue juga udah dijemput nih. Renald udah ada di depan,” timpal Vira.
Dengan kepala berat Dinda menegakkan kembali tubuhnya. Dia menatap Gisel, Aika, dan Vira secara bergantian. Setelah itu barulah Dinda menganggukan kepalanya. “Cabut aja, gue bentar lagi kok.”
“Oke,” jawab ketiganya dengan kompak.
Setelah berpamitan dengan Dinda, ketiga wanita itu pergi meninggalkan kelas. Kini di dalam kelas tersisa Dinda dan beberapa mahasiswa lainnya yang masih mengobrol. Karena kalau diturutin tidak akan ada habisnya, Dinda memilih membereskan barang-barangnya. Tak lupa dia memasukkan laptop ke dalam tas. Saat ingin berdiri, Dinda teringat sesuatu. Gadis itu menepuk keningnya seraya duduk kembali.
“Kok gue lupa ya kalau udah ada janji sama Farhan,” guman Dinda. Buru-buru gadis itu mengeluarkan ponsel dari dalam tas, lalu dia melihat pesan-pesan yang masuk dari Farhan. Sudah satu jam yang lalu, tetapi baru Dinda lihat.
Segera Dinda mengirim balasan. Berhubung ini sudah sore, dan tubuhnya juga sudah lengket, Dinda berniat untuk pulang dulu. Sambil menunggu balasan Farhan, Dinda keluar kelas. Dia menatap keseliling. Kampus memang masih ramai walaupun sudah sore.
Ting!
Chat from : Farhan Aditya.
Farhan Aditya : ‘Its okay, Din, gapapa.’
Farhan Aditya : ‘Yaudah kalau gitu, nanti jam tujuh gue jemput ke rumah ya.’
Dinda Shafa : “Oke, Han.”
Read.
Tidak menunggu balasan lanjutan, Dinda mematikan layar ponselnya. Sambil bersenandung kecil gadis itu berjalan menuju parkiran. Sudah beberapa hari ini Dinda memang diperbolehkan membawa mobil. Karena sebelumnya, dia selalu disupirin atau naik transportasi umum.
“Mari kita pulang, mandi lalu rebahan,” ujar Dinda dengan riang. Saat akan masuk ke dalam mobil, tubuh Dinda kembali mundur beberapa langkah.
Kening Dinda mengerut melihat ban mobilnya yang kempes. Tidak hanya satu, melainkan tiga sekaligus. Dinda mendengus, menendang ban mobilnya yang kempes. Padahal tadi pagi tidak apa-apa, kenapa sekarang bisa kempes? Ini janggal, dan Dinda tidak bisa berpositif thinking.
“Terus gue pulangnya gimana anjir?” Dinda mengacak-acak rambutnya frustasi. “Siapapun yang usil ke gue, gue sumpahin kakinya patah!” sambungnya dengan kesal.
Dinda berjongkok, memperhatikan ban mobilnya dengan nanar. Tentu untuk menangani sendiri Dinda tidak bisa. Saking kesalnya Dinda, gadis itu sampai melompat-lompat menghentakkan kakinya. Tanpa Dinda sadari, dari arah depan Rayyan tengah menatap. Parkiran dosen dengan mahasiswa memang berbeda, tapi entah kebetulan atau gimana, dari tempat mobilnya berada dia bisa melihat sosok Dinda.
“Apa dengan marah-marah semua masalah bisa selesai?”
Mendengar pertanyaan itu Dinda menoleh, mendongakkan kepalanya.
***