Suara tangisan lirih terdengar dari halaman belakang, tipis tapi jelas menusuk telinga. Zivanna menghela napas panjang, meletakkan sendok kayu dari tangan dan meminta pelayan dapur untuk menyelesaikan sup yang tengah dimasak. “Tolong lanjutkan, ya. Aku ke belakang dulu.” Ia melangkah keluar, melewati koridor rumah besar itu yang diterpa cahaya sore. Begitu membuka pintu menuju beranda belakang, terlihatlah Dilara, anak kecil berusia tiga tahun dengan gaun bunga yang kebesaran di tubuh mungilnya berjalan sempoyongan sambil menangis. Pipinya basah, matanya sembab, tangan mungilnya terulur. “Buuu…,” panggilnya, suara serak. Zivanna langsung menunduk, meraih tubuh kecil itu ke dalam pelukannya. “Ya ampun, Sayang, ada apa ini? Kakak gangguin lagi, ya?” tanyanya lembut, mencium kening anak it
Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari


