Tentu tidak semudah itu bagi Rajendra menerima Dilara. Amukannya pagi tadi masih membekas di rumah itu, teriakan, tangisan, hingga tubuh kecilnya yang meronta saat Hakim mencoba meraih. Dan meskipun sempat diperlihatkan wajah bayi mungil yang terlelap damai, Rajendra hanya terdiam, menatap sebentar dengan mata bundar yang penuh tanda tanya, lalu pergi begitu saja sambil menghentakan kaki. “Ndaaa mau!” Siangnya ia memaksa ikut ke rumah Eyangnya, menolak tinggal di rumah yang kini terasa asing baginya karena kehadiran sosok baru. Zivanna tidak melawan, ia hanya mengelus kepala putranya sebelum melepasnya pergi, berharap waktu akan meluluhkan hati kecil yang penuh cemburu itu. Zivanna memilih fokus pada bayi di pangkuannya, gadis mungil bernama Dilara. Berbeda dengan Rajendra yang cerewet d

