"Papi, kenapa Nirwana nggak disekolahin di sekolahnya Topan?" Karena Nirwana meresahkan. Alam hanya tersenyum, di sisi Awan yang geleng-geleng kepala. Hari ini Awan berkunjung lagi ke rumah papi sambil bawa tiga bocahnya. Sebab tidak mungkin dia bawa Rinai atau Abrasi, maaf saja, Awan bukan pawang mereka. "Kak Awan, Topannya boleh buat aku aja, nggak?" Awan cubit pipi adiknya. Jika dilihat-lihat, Nirwana cantik seperti maminya. "Nggak boleh dong, Tante. Nanti dimarahin sama mama." Serupa de javu, kalimat itu rasanya tak asing. Dan kali ini diucapkan oleh Topan. Makanya, Nirwana merajuk. "Tante, Tan, Mpan ngerebut pacar Gegem, tau!" celetuk Badai, si kompor meleduk. Kalau kata Kakek Sakha, tabiat Badai mulai kelihatan seperti sesepuh dahulu. Yang biasa disebut Pakde Kai oleh orang tua

