Lutut Rania terasa gemetar tatkala melihat sosok wanita yang namanya selalu ia panjatkan dalam doa. Ia selalu meminta kepada sang pencipta agar memberikan keselamatan dan meminta agar diberikan kesempatan untuk bisa bertemu kembali. Saling merangkul melepas cerita panjang yang telah mereka lalui setelah perpisahan yang sangat dipaksakan dahulu kala. Namun, itu dulu. Sebelum Rania tahu tentang bagaimana jahatnya wanita yang dipanggil dengan sebutan Kakak itu. Air mata pun tak mampu ditahan, menyaksikan Kakaknya benar-benar berdiri di depannya secara nyata dalam keadaan sehat. Bukan air mata kerinduan seperti sebelumnya, melainkan kekecewaan hingga d**a terasa sangat sesak. “Rania.” Elva tersenyum canggung saat berhadapan dengan adiknya itu. Ia tadi cukup kaget melihat sosok Rania yang dul

